Postingan

KEBIJAKAN PENDIDIKAN INDONESIA SALAH ARAH

Oleh Pranowo Paradigma pendidikan yang selama ini dianggap benar adalah bahwa pendidikan dimaksudkan untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM). Indikator manusia yang berkualitas ditandai dengan (a) dimilikinya kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan (b) dimilikinya kemampuan menciptakan ilmu dan teknologi untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Lebih dari 30 tahun Indonesia mendidik bangsanya dengan bertolak dari paradigma seperti itu dengan keyakinan bahwa bangsa Indonesia akan menjadi bangsa modern. Untuk mewujudkan manusia modern, Indonesia telah mengalokasikan anggaran miliaran rupiah yang dikeluarkan melalui APBN atau APBD untuk mendanai pendidikan. Namun, hasil terbaik pendidikan kita hanyalah mencetak distributor, operator dan konsumen ilmu dan teknologi bangsa maju. Kita gagal mencetak peneliti, penggali, dan pencipta ilmu dan teknologi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan bangsanya sendiri. Dengan demikian, selama ini bangsa Indonesia t...

EKSISTENSI UU GURU DAN DOSEN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN NASIONA

Abstrak Pembangunan Pendidikan Nasional Indonesia mendapat roh baru dalam pelaksanaannya sejak disahkannya Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional oleh DPR pada hari Selasa, 6 Desember 2005. Selaras dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional maka Visi pembangunan pendidikan nasional adalah “Terwujudnya Manusia Indonesia Yang Cerdas, Produktif dan Berakhlak Mulia”. Bagian yang perlu mendapat sambutan positif dari masyarakat terhadap UU Guru dan Dosen menyangkut: (1) Kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi; (2) Hak dan kewajiban; (3) Pembinaan dan pengembangan; (4) Penghargaan; (5) Perlindungan; (6) Organisasi profesi dan kode etik. Meski demikian, ada beberapa hal dalam UU Guru dan Dosen yang sampai saat ini masih hangat dibicarakan, yaitu: (1) standarisasi penyelenggaraan pendidikan dan standarisasi kompetensi guru; (2) kesejahteraan atau tunjangan; (3) organisasi profesi dan dewan kehormatan; (4) perlindungan hukum, profesi dan keselama...

Ada Apa dengan Pendidikan Indonesia?

04 May 2006, 00:20 - Esai & Opini Ing ngarso sung tulodo - di depan memberikan teladan ing madya mangun karso - di tengah membangun karya tut wuri handayani - di belakang memberi dorongan Siapa yang tidak mengenal tiga kalimat tersebut dari ajaran Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara yang bernama asli Raden Mas Soewardi Soejaningrat. Beliau merupakan pelopor pendiri Peguruan Taman Siswa, yang mana hari kelahiran beliau 2 Mei (1889) selalu di peringati sebagai hari Pendidikan Nasional oleh bangsa Indonesia. Kini, Hari Pendidikan Nasional yang di peringati 2 Mei setiap tahunnya telah menjadi sebuah momentum bangsa Indonesia untuk memaknai arti pentingnya pendidikan bagi setiap masyarakat Indonesia. Pendidikan di negara kita, sebenarnya sudah di atur dalam Undang-undang yang berlaku di Indonesia. Bahkan dalam Undang-undang Dasar 1945, terutama pada pasal 31, tertulis secara jelas bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan. Undang-undang me...

EMBRIO SPIRITUAL

A. Pendahuluan Setiap anak yang baru lahir harus melakukan bagian dari kegiatan formatif yang sesuai dengan lingkup psikologis dari lingkungan fisiknya. Sebelum dia lahir ke dunia, ada sebuah periode kehidupan yang ia alami dalam rahim, ketika ia belum berbentuk seperti seorang manusia. Pasca kelahiran, ada kegiatan konstruktif yang disebut 'periode formatif, dan periode itu membuat bayi menjadi semacam "Embrio Spiritual. " Manusia memiliki dua periode embrionik. Salah satunya adalah pralahir (masa dalam kandungan), sama seperti yang juga dialami oleh binatang, dan periode lainnya adalah setelah lahir ke dunia ini. Masa kanak-kanak yang panjang adalah hal yang membedakan manusia dari binatang. Manusia dipandang sebagai makhluk yang berbeda dari mahluk ciptaan lainnya. Kehadirannya di bumi adalah sebuah lompatan dalam hidup yang disebut titik awal perziarahan baru. Hal yang menyebabkan kita membedakan berbagai spesies adalah tidak adanya kemiripan antara berbagai spesies t...

The Absorbent Mind and the Sensitive Periods P. Donohue Shortridge

http://www.pdonohueshortridge.com/children/absorbent.html Maria Montessori observed that young children learn in a unique way from prenatal life to about six years old. The absorbent mind is the image she created to describe, ". . . this intense mental activity."1 Since the neonate has to learn everything (he has no tools other than reflexes to survive), but has no language or conscious will to learn the way adults do, he must acquire his survival skills in some other way. Montessori said that the child learns by unconsciously taking in everything around him and actually constructs himself. Using his senses, he incarnates, or creates himself by absorbing his environment through his very act of living.2 He does this easily and naturally, without thought or choice. Montessori saw the absorbent mind in two phases. During the first phase, from birth to three years old, the young child unknowingly or unconsciously acquires his basic abilities. She called it the period of u...

MEMBUAT KEBUNGKAMAN-KEBUNGKAMAN ’BERBICARA’: Pandangan Pierre Macherey, kritikus seni yang diilhami pemikiranAlthusser

PSIRB 301, Marxisme: Religi, Politik & Ideologi. Dosen: George Junus Aditjondro. Handout No. 11: -------------------------------------------------------------------------------------------------- Oleh George Junus Aditjondro DARI sejumlah mantan mahasiswa Louis Althusser di Perancis, ada seorang yang terkenal sebagai pengembang teori kritik sastra, yakni Pierre Macherey (lahir, 1938). Pandangan Macherey, yang berkontribusi dalam penulisan Reading Capita l(1970), dan ikut mengilhami Jacques Derrida dan Terry Eagleton, sungguh unik. Menurut Macherey, terikatnya teks pada ideologi tertentu bukan pada apa yang dikatakannya, tapi justru pada apa yang tidak dikatakannya. Suatu teks mengandung kebungkaman-kebungkaman (silences) tertentu, gaps tertentu dan absences tertentu. Tugas seorang kritikus adalah membuat kebungkaman-kebungkaman itu ’berbicara’ (Eagleton 2002: 32). Seperti tulis Macherey, dalam A Theory of Literary Production (pertama kali diterbitkan dalam bahasa Perancis, tah...

MASIH PERLUKAH SEKOLAH? (Sebuah catatan atas buku Lebih Baik Tidak Sekolah)

I. Mengapa harus “Lebih Baik Tidak Sekolah”. Buku dengan judul Lebih Baik Tidak Sekolah ini ditulis oleh seorang seniman bernama Sujono Samba. Melihat latar belakangnya yang selama ini lebih banyak bergelut dalam dunia seni budaya (meskipun ia juga berprofesi sebagai guru agama) maka lahirnya buku ini tentu memiliki sisi yang cukup menarik untuk dibedah. Buku ini lebih cocok disebut sebagai catatan kritis yang merupakan ekspresi dari keprihatinan penulis terhadap kondisi pendidikan di Indonesia. Oleh karena ini merupakan catatan kritis maka memang tidak banyak konsep – konsep yang ditawarkan. Judul yang dipilih oleh penulis termasuk provokatif, pilihan kalimat yang sesungguhnya merupakan situasi sangat wajar bagi seorang yang terbiasa hidup dalam dunia seni. Dunia yang sangat identik dengan kebebasan berekspresi, dunia dimana segalanya disampaikan secara gamblang dan apa adanya. Ide yang sama tentang gugatan terhadap institusi sekolah sesungguhnya bukanlah hal yang baru. Selain ide – i...