Postingan

Menampilkan postingan dengan label Filsafat

Sigmund Freud

Gambar
Sigmund Freud adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam psikologi. Ia lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia, yang sekarang dikenal sebagai bagian dari Republik Ceko. Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga memberikan pernyataan pada awalnya bahwa prilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas pada awalnya (eros) yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya. Latar Belakang Kehidupan • Lahir di Freiberg Moravia • Pindah ke Wina (dikejar Nazi terus ke London) • Selama tinggal di London hampir setiap tahun menerbitkan buku • Meninggal di London • Dia adalah Dokter yang mengobati kekacauan syaraf. • 1909, pengakuan pertama keahliannya oleh Clark University, W...

Teori Psikoanalisis Sastra

Berbicara tentang psikologi dan sastra, Rene Wellek dan Austin Warren menulis bahwa istilah “psikologi sastra” memunyai empat kemungkinan pengertian. Pertama, studi psikologi pengarang sebagai tipe atau pribadi. Kedua, studi proses kreatif. Ketiga, studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Keempat, studi tentang dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca). Sastra adalah salah satu bentuk karya seni. Dari empat macam hubungan di atas, hubungan pertama, kedua, dan keempat bisa terjadi pada segala bentuk seni. Yang khas sastra mungkin hanya hubungan ketiga, itu pun sastra yang berupa cerita (prosa dan drama). Di antara berbagai aliran dalam psikologi, psikoanalisis adalah aliran yang paling akrab dengan seni. Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis, adalah seorang yang menghargai kebudayaan, menyukai seni, dan gemar membaca sastra sejak muda. Tidak heran kalau kemudian ia menjadikan sastra sebagai medan penelitian sekaligus ilustrasi untuk membuktikan teor...

Kodrat Manusia Menurut Mensius (孟子)

1. Pengantar Diskursus seputar manusia selalu memancarkan daya tarik bagi kebanyakan orang khususnya para filosof. Sesungguhnya diskursus seputar manusia adalah sebuah persoalan yang bisa kita jawab sekaligus jawaban yang kita berikan itu belum tuntas untuk melukiskan siapakah manusia itu sesungguhnya. Dalam dirinya tersimpan sebuah sebuah teka-teki yang sulit ditebak. Salah satu persoalan yang didiskusikan dalam diskursus tersebut adalah tentang kodrat manusia. Ada yang mengatakan bahwa kodrat manusia itu baik, ada yang mengatakan bahwa kodrat manusia itu buruk, ada pula yang mengatakan bahwa kodrat manusia itu bukan baik dan bukan buruk (netral), dan sebagainya. Terlepas dari “kemisteriusan” diskursus seputar manusia, dalam paper ini penulis memfokuskan diri pada pendapat Mensius tentang kodrat manusia. Menurutnya, kodrat manusia adalah baik. Paper ini akan menampilkan mengenai riwayat hidup Mensius, konsep Mensius tentang kodrat manusia, kritik Hsun Tzu terhadap Mensius, k...

MEMBUAT KEBUNGKAMAN-KEBUNGKAMAN ’BERBICARA’: Pandangan Pierre Macherey, kritikus seni yang diilhami pemikiranAlthusser

PSIRB 301, Marxisme: Religi, Politik & Ideologi. Dosen: George Junus Aditjondro. Handout No. 11: -------------------------------------------------------------------------------------------------- Oleh George Junus Aditjondro DARI sejumlah mantan mahasiswa Louis Althusser di Perancis, ada seorang yang terkenal sebagai pengembang teori kritik sastra, yakni Pierre Macherey (lahir, 1938). Pandangan Macherey, yang berkontribusi dalam penulisan Reading Capita l(1970), dan ikut mengilhami Jacques Derrida dan Terry Eagleton, sungguh unik. Menurut Macherey, terikatnya teks pada ideologi tertentu bukan pada apa yang dikatakannya, tapi justru pada apa yang tidak dikatakannya. Suatu teks mengandung kebungkaman-kebungkaman (silences) tertentu, gaps tertentu dan absences tertentu. Tugas seorang kritikus adalah membuat kebungkaman-kebungkaman itu ’berbicara’ (Eagleton 2002: 32). Seperti tulis Macherey, dalam A Theory of Literary Production (pertama kali diterbitkan dalam bahasa Perancis, tah...

DASAR-DASAR TEORI KEBUDAYAAN MARX & ENGELS

PSIRB 301, Marxisme: Religi, Politik & Ideologi. Dosen: George J. Aditjondro Handout 5: 1. DASAR FILOSOFIS: Filsafat Marx tidak dapat dikatakan “murni” idealis maupun “murni” materialis, sebab sampai akhir hayatnya, Marx digerakkan oleh ide-ide, yaitu semacam humanisme, yang bersumber dari filsafat, yang dia usahakan untuk wujudkan melalui dan bersama gerakan buruh di Inggris dan Jerman waktu itu. Memang, seperti kata Marx: “Ideas can never lead beyond an old world order but only beyond the ideas of the old world order. Ideas cannot carry out anything at all. In order to carry out ideas men are needed who can exert practical force” [ide-ide tidak dapat membawa masyarakat keluar dari tatanan dunia yang lama, tapi hanya keluar dari ide-ide dunia lama itu. Ide-ide tidak dapat berbuat apapun. Supaya ide-ide dapat terwujud, harus ada orang-orang yang melaksanakan ide-ide itu dengan usaha nyata mereka] (lihat Price 1986: 21). Tapi mengapa Marx, yang berasal dari kelas menengah, dengan la...

AGAMA DARI KACAMATA MARX(IS)

PSIRB 301, Marxisme: Religi, Politik & Ideologi. Dosen: George J. Aditjondro Handout 6: 1. PENGANTAR: “BAGAIMANA anda sebagai Marxis (= materialis), bisa percaya pada Tuhan (= idealis)?” Begitu bunyi sebuah sms yang pernah saya terima dari seorang mahasiswi dalam perjalanan kuliah ini. Sms itu muncul dalam rangka percakapan kami, ketika saya menyatakan bahwa saya percaya pada “penyelenggaraan Illahi”. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan diminta ikut mengajar mata kuliah Marxisme, namun selama saya di luar negeri (4 tahun di AS, hampir 8 tahun di Australia), saya rajin mengumpulkan buku-buku tentang Marxisme dan aliran-aliran Sosialisme lain, yang sekarang sangat berguna untuk matakuliah ini. Sms singkat itu kemudian melahirkan serangkaian sms bolak-balik. Saya jelaskan bahwa karena tidak semua hal dapat kita jelaskan secara “materialistik”, maka kepercayaan saya pada Tuhan merupakan ungkapan rasa keterbatasan saya mengetahui dunia di sekeliling saya serta perjalanan hidup ...