Rabu, 29 September 2010

pendidikan

Pendidikan
Selasa, 10 Agustus 2010 08:48:00 WIB
Thingking Skills
By : Ahmad Baedowi
Seorang teman guru di Kupang mengeluh tentang kemampuan teman-temannya dalam membuat lesson design. Dari 16 orang guru, hanya 3 orang yang memiliki kemampuan standar membuat lesson design, sedangkan 13 lainnya tak pernah membuat. Teman guru lainnya di Calang, Aceh Jaya, juga mengeluhkan hal yang sama, yaitu betapa sulitnya guru dalam merancang lesson design, hingga beberapa kepala sekolah di sana hanya meng-copy paste lesson design sejak jaman orde baru hingga sekarang hanya dengan mengubah nama guru dan sekolahnya saja.
Di awal berdirinya sekolah sukma bangsa, kesulitan yang sama juga dirasakan oleh hampir semua guru baru. Namun secara perlahan dan pasti, kemampuan guru dalam membuat lesson design yang efektif dan mengenai target sasaran pembelajaran mulai terlihat. Dari format lesson design yang sederhana hingga yang rumit sekalipun para guru sudah terbiasa untuk melakoninya. Keterampilan dan kemampuan mereka dalam menyusun rencana pembelajaran terus berkembang seiring dengan meningkatkan thinking skills yang ditempa oleh pelatihan dan best-practice yang terus disupervisi secara ketat.
Jika ditanya kesulitan apa yang dialami guru ketika menyusun sebuah lesson design/plan? Dari perspektif parameter pengajaran, studi Saphier dalam the parameters of teaching (1980) menunjukkan bahwa sekitar 80% guru mengalami kesulitan dalam menentukan tujuan pembelajaran (learning objectives). Ada banyak cara untuk menentukan tujuan pembelajaran, tetapi karena tradisi copy paste di lingkungan pendidikan kita begitu tinggi, maka keterampilan guru tak berkembang kecuali hanya sekedar mencoba memahami tujuan pembelajaran dari buku-buku teks yang tersedia. Hal semacam ini tampaknya kurang mendapat perhatian dari para pengawas pendidikan kita.
Dalam pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas guru, selalu diterangkan tentang paradigma pendidikan baru yang berorientasi kepada siswa (student center). Tujuan pembelajaran harus berorientasi pada kebutuhan siswa, tetapi dalam realisasinya kebanyakan guru malah terjebak pada orientasi tujuan pembelajaran sesaat karena tak didukung oleh thinking skills yang memadai. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Banyak sekali, ketika menentukan tujuan pembelajaran, guru terjebak pada katagori dan orientasi yang salah dalam menuliskan dan mengimplementasikan tujuan pembelajaran. Sebagian guru terobsesi untuk selalu mencoba mengatasi dan menyampaikan semua gagasan dan pengetahuan yang mereka miliki. Tipologi ini disebut sebagai coverage thinkers; bertumpu pada materi, mengutamakan ceramah, dan sangat kurang peduli dengan pemahaman siswa. Rumusan pertanyaan guru tipe ini biasanya adalah ”what knowledge, skill, or concept am I teaching?”
Tipe kedua adalah activity thinkers, yaitu guru yang cenderung mengandalkan serangkaian aktivitas sehingga membuat siswa mereka terlihat sibuk dan kebanyakan bekerja secara berkelompok. Tidak ada yang salah dengan katagori ini, hanya saja fokus guru terlalu terpusat pada assigment dan penyelesaian masalah yang bersifat sementara tanpa mengikuti prosedur yang sistematik dan menuntun logika siswa bekerja. Proses belajar bermula dari asumsi tentang ”what activities could students do to gain understanding or to develop these skills?”
Guru dengan tipologi involvement thinkers biasanya lebih banyak menghabiskan energi dari dua tipologi guru di atas, karena aktivitas dan ceramah menjadi lebih banyak, kelas menjadi bertambah ramai dan lebih fun, tetapi asepek tujuan atau objectives guru tipe ini selalu berorientasi pada”how can I get students really engaged?” Di atas ketiga tipologi tadi adalah guru yang secara substantif dan metodologis jaug lebih baik karena berusaha menggabungkan ketiga pendekatan di atas dan memiliki orientasi untuk belajar tuntas (mastery learning objectives). Biasanya rumusan standar asumsi tipologi guru keempat ini adalah “what do I want students ti know or be able to do when lesson is over?” dan “how will I know if they know it or can do it?”
Salah satu kelemahan dari tipologi guru yang berorientasi pada mastery learning objectives adalah kurangnya memberi ruang kepada daya jelajah pikir siswa untuk tumbuh menjadi lebih kritis dan lebih sistematik. Tetapi jika pendekatan ini juga digunakan, maka thinking skills siswa maupun guru akan tumbuh secara kritis dan menjadi lebih sistematis. Diperlukan guru dengan model generic thinkers yang mampu membimbing dan mengembangkan daya kritis siswa, sekaligus merumuskan tujuan pembelajaran berkualitas yang bertumpu pada apa yang dapat dilihat dan tak dapat dilihat di ruang kelas.


amis, 12 Agustus 2010 15:08:00 WIB
Semua Karena Cinta
By : Veronica Colondam
"Ada berita buruk". Begitu isi teks BBM yang saya terima ketika mendarat di Los Angeles. Hati saya berdebar-debar. Teks selanjutnya berbunyi, "Telpon saya segera."
"Waduh....ada apa nih?" saya membatin dalam kekuatiran.
Segera setelah melalui meja imigrasi, tanpa berpikir panjang lagi saya menelpon ke rumah. Di Jakarta saat itu kira-kira menjelang subuh, dan terdengar suara suami saya yang masih terjaga. Hati saya seakan terhempas ludes ke dalam kesedihan dan kebingungan. Bahkan syok, ketika mendengar apa yang terjadi pada keponakan saya Ben.
"Ben stroke!!" Antara tidak percaya dan panik, hati saya berdebar keras. Kekuatiran muncul. Tiba-tiba kepala saya sakit dan mual rasanya. Sepanjang perjalanan menuju gedung parkir, tidak habis-habisnya bertanya dalam hati "Mana mungkin anak empat tahun kena stroke? Apa salah diagnosa? Why bad things happens to good people?" Ahhhhh.....sulit rasanya mengatasi ribuan pertanyaan yang timbul. Belum lagi terjawab pertanyaan sendiri, hujan pertanyaan anak-anak saya yang ikut panik seakan sayup-sayup terdengar. Saya sibuk dengan berbagai skenario, dari salah diagnosa sampai yang terburuk, the what ifs....
Terbayang Ben dua hari yang lalu. Tepat sehari sebelum keberangkatan saya, ia masih hadir di acara ulangtahun anak saya, tampak lincah dan ceria. Aktif dan selalu ingin terlihat paling depan dalam upacara tiup lilin. Seakan bersaing dengan yang berulangtahun, Ben tidak pernah mau ketinggalan meniup lilin. Tingkah lakunya selalu saja memicu tawa dan kegemasan yang hadir. Membayangkan Ben yang sekarang dalam kondisi kritis sungguh tidak mengenakkan. Di foto yang dikirm ke saya, terlihat ventilator, infus dan berbagai selang melintas di atas tubuh mungilnya. Kondisi Ben yang lemas terkulai dalam keadaan koma membuat dada saya sesak.
Apa yang terjadi? Menurut orangtuanya, kejadian ini dimulai dengan jeritan Ben yang mengeluh sakit kepala ketika dia sedang menonton acara TV kesukaannya. Jeritan keras ini membuat ibunya bergegas keluar dari kamar dan lari menuju jeritan tersebut. Saat itu Ben berteriak sambil nangis, "Sakit, Ma.....sakiiiit!" Sambil berlari ke kamar mandi, detik itupun Ben spontan muntah. Sebagai seorang dokter, hal pertama yang muncul di benak ibuny adalah, "Wah....Ben kena stroke!"
Dengan sigap ibunya menggendong Ben, menyambar hape dan kunci mobil. Dalam perjalanan dia menelpon rekan sejawat di rumah sakit untuk mempersiapkan CT scan. Ia tahu bahwa Ben hanya punya waktu 6 jam waktu emas sebelum terlambat. Enam jam untuk segera menerima tindakan, dalam hal ini bedah otak untuk menyedot pembuluh darah yang pecah. Masuk dalam tabung CT Scan, Ben sudah terbaring kaku. Hilang sudah kesadarannya sejak dalam perjalanan. Semua terjadi begitu cepat. Keputusan harus segera dibuat. Empat jam lagi masa emas Ben segera akan berlalu.
Saya mengagumi orangtua Ben. Mereka begitu tenang dan sigap dalam mengambil keputusan. Menjelang tengah malam, dilakukan operasi di otak Ben, darah yang pecah dari pembuluh di sekitar frontal cortex (otak bagian atas depan) cepat dibersihkan. Operasi yang rumit ini memakan waktu lebih dari lima jam.
Penasaran akan penyebab stroke, berbagai scan lanjutan dilakukan. Dua hari kemudian, dokter ahli dan keluarga memutuskan untuk kembali mengoperasi Ben setelah mereka menemui masalah sesungguhnya. Bukan tumor, bukan pula kondisi penyebab stroke biassa, ternyata Ben menderita kondisi bawaan. Kondisi itu disebut AVM (arteri vena malformation). Kelainan bawaan yang terjadi sejak dalam kandungan. Hanya mungkin satu di antara jutaan bayi yang lahir. Kondisi yang sangat langka. Anugrah Tuhan saja yang memberikan hikmat pada kedua orangtua Ben untuk cepat berespon terhadap kejadian mendadak ini.
Setelah 25 hari dirawat di RS, kini Ben sudah pulang ke rumah. Di situlah perjuangan sesungguhnya dimulai. Hanya cinta orangtua, dukungan dari seluruh keluarga dan jadwal fisioterapi yang padat yang akan memulihkan Ben. Sungguh adalah mujizat Tuhan bahwa Ben selamat. Namun, usaha keras tanpa pamrih orang-orang yang mencintainyalah yang memulihkan Ben. Kini, Ben seperti layaknya anak balita lainnya, sudah kembali lincah dalam segala aktifitas dan kemampuan berkomunikasinyapun membaik secara luar biasa. Hanya ada satu hal yang masih terus dipantau, yaitu kondisi emosi dan perasaannya. Walaupun tampak Ben jadi lebih sensitif, di luar itu, so far so good!
Jika saya merenungkan kejadian ini, dan mengaitkan dengan pengalaman saya selama ini bergelut di bidang pencegahan narkoba, ternyata banyak hal yang bisa dipelajari, walaupun dengan kondisi yang berbeda. Pertama adalah kepekaan orangtua terhadap anaknya. Saya membayangkan bahwa jeritan Ben pastilah bukan jeritan yang biasa dilakukan, sehingga hanya orangtua yang memiliki kepekaan sajalah bisa tahu jika ada perbedaan. Orangtua perlu memiliki kepekaan guna mengetahui kondisi berbeda yang dialami anaknya jika dia terkena narkoba. Mungkin ada perubahan tingkah laku (yang bisa sangat tidak kelihatan secara kasat mata dan membutuhkan kepekaan yang luar biasa), perubahan sikap, dsb pada anak kita.
Yang kedua adalah pengetahuan. Pengetahuan tentang stroke, masa kritis dan tindakan apa yang harus segera dilakukan terbukti sangat membantu upaya penyelamatan Ben. Orangtua yang memiliki pengetahuan tentang narkoba dan tahu apa yang harus segera dilakukan bila anaknya terkena narkoba, akan memilki peluang lebih besar untuk menyelamatkan anaknya daripada yang buta sama sekali. Di sini orang tua perlu merelakan dirinya untuk belajar tentang narkoba dan bahayanya, untuk bisa memilih respon yang tepat.
Ketiga, segera menemukan penyebab utamanya untuk mencegah hal yang sama terjadi di masa mendatang. Jika kita bisa menemukan faktor resiko dan faktor protektif yang membuat anak kita terkena narkoba, maka kita bisa melakukan manipulasi pada faktor-faktor tersebut untuk membuat anak kita tidak terkena narkoba lagi. Banyak kasus membuktikan hal ini sangat menantang karena kebanyakan pecandu jatuh dan jatuh lagi dalam jeratan narkoba.
Ke empat dan sangat penting adalah kekuatan adalah cinta keluarga yang memenangkan! Itu adalah modal utama untuk pemulihan seseorang. Baik AVM maupun kecanduan narkoba, tidak ada obat yang lebih manjur daripada kasih sayang keluarga. (VC/08/2010).

Pendidikan
Rabu, 05 Mei 2010 09:33:00 WIB
Belajar Aktif
By : Ahmad Baedowi
Untuk memulai sebuah proses belajar aktif memang bukanlah hal mudah, apalagi jika guru tak memiliki bacaan dan wacana yang luas tentang substansi mata ajar yang diembannya. Sehebat apapun teknik dan metode yang dimiliki seorang guru dalam mengajar, akan sangat tergantung dari seberapa besar sumber bacaan yang telah diserapnya. Selain itu, metode tersebut juga biasanya berkesesuaian dengan strategi yang ingin dibangun seorang guru ketika hendak mengajar.
Menguasai dan mengetahui beberapa teknik untuk melibatkan murid secara aktif dalam proses pembelajaran adalah hal mutlak yang harus dimiliki seorang guru ketika merancang rencana pembelajarannya (lesson design). Teknik mini-lektur, misalnya, adalah cara ringkas menyampaikan latar belakang informasi yang penting, temuan-temuan ilmu pengetahuan yang baru, dan contoh-contoh yang membangun motivasi keilmuan. Harus diingat, penyampaian materi harus singkat, tidak memakan waktu lama – sekitar 10-15 menit. Teknik kedua, jedah klarifikasi adalah cara yang memungkinkan seorang guru berkeliling ruang kelas, sementara murid mereview catatannya. Murid yang belum memahami hal tertentu, dengan demikian, memiliki kesempatan untuk bertanya kepada guru secara tidak formal. Murid pemalu yang tidak pernah bertanya secara formal akan memanfaatkan jedah klarifikasi ini untuk bertanya ketika guru menghampirinya.
Diskusi berpasangan, merupakan kegiatan sederhana yang memberi kesempatan kepada murid untuk berpikir tentang suatu topik pelajaran, kemudian berdiskusi dengan teman sebangkunya atau pasangan yang ditetapkan guru tentang topik itu. Hasil diskusi kemudian disampaikan kepada seluruh kelas. Strategi ini menihilkan keengganan murid untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Uji coba sistem berpasangan ini memperlihatkan hasil yang dicapai untuk nilai tengah semester lebih tinggi 10 poin – dengan rentang nilai hingga 100 – dibandingkan dengan ulangan individual.
Selain itu teknik laporan satu menit (pre-test and post-test), memberikan kesempatan kepada murid untuk mensintesiskan pengetahuannya dan menanyakan permasalahan yang belum dipahaminya. Menjelang penghujung pelajaran, mintalah murid-murid untuk membuat jawaban tertulis singkat – di atas selembar kertas – untuk pertanyaan: Apa hal terpenting yang dipelajarinya dalam sesi pelajaran itu? Pertanyaan penting apa yang masih belum terjawab? Kedua pertanyaan kunci ini bisa diajukan dalam berbagai variasi. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memperkuat proses pembelajaran murid dan memberikan umpan balik kepada guru tentang pemahaman murid terhadap apa yang telah dipelajari.
Guru juga dapat memberikan kegiatan menulis bebas dalam berbagai topik pelajaran yang memberikan peluang kepada murid untuk berpikir dan memproses informasi. Contohnya, disamping laporan satu menit, guru dapat membuat pertanyaan dan meminta murid bebas menjawabnya secara tertulis. Peluang bisa juga diberikan kepada murid untuk menulis secara bebas mengenai topik pelajaran tertentu. Setelah itu gunakan juga teknik curah gagasan, sebuah teknik sederhana yang dapat melibatkan seisi kelas dalam suatu diskusi. Kemukakanlah suatu topik atau masalah, kemudian mintalah masukan murid untuknya, dan tulislah masukan itu di papan tulis.
Permainan (games) yang terkait dengan pelajaran dapat diperkenalkan di dalam (indoor) atau di luar (outdoor) kelas untuk membantu pembelajaran aktif dan meningkatkan partisipasi murid. Aktivitas kelompok kecil dalam debat akan memberikan setiap Murid kesempatan untuk berbicara, menyampaikan pandangan pribadinya, dan mengembangkan kemampuannya untuk bekerja sama dengan murid lain. Bekerja secara berkelompok mengharuskan seluruh murid bekerja sama menyelesaikan suatu tugas dalam suatu teknik kelompok kerja kooperatif. Teknik ini dapat dilanjutkan dengan konsep bermain peran.
Siklus belajar, digunakan terutama dalam mengajarkan ilmu pengetahuan alam. Siklus belajar ini dibagi ke dalam tiga fase: eksplorasi, pengenalan istilah-istilah konsep, dan aplikasi. Pada fase eksplorasi, murid mengeksplorasi fenomena, membuat prediksi jika memungkinkan dan mengevaluasi hasilnya. Dalam fase kedua, fasilitator mengungkapkan istilah-itilah yang digunakan untuk menamakan pola, regularitas dan karakteristik lain dari konsep yang tengah dipelajari. Dalam fase aplikasi, murid mempraktekkan penerapan konsep-konsep tersebut dalam situasi yang berbeda. Teknik ini dapat diteruskan dengan bermain peran
Simulasi, merupakan kegiatan yang distrukturkan hingga mirip pengalaman nyata. Dalam simulasi, murid-murid diminta membayangkan diri mereka berada dalam suatu situasi, atau memerankan permainan/aktivitas terstruktur yang membuat mereka bisa mengalami suatu perasaan yang mungkin saja timbul dalam suatu situasi tertentu. Teknik terakhir yang patut dicoba para guru adalah studi kasus. Gunakan kisah nyata yang melukiskan apa yang terjadi pada suatu masyarakat, keluarga, sekolah, atau individu, untuk mendorong murid mengintegrasikan pengetahuan yang didapatnya di ruang kelas dengan pengetahuannya tentang situasi, aksi, dan konsekuensi di dunia nyata.


Pendidikan
Selasa, 06 April 2010 19:15:00 WIB
Jiwa Besar
By : Ahmad Baedowi
Ada pertanyaan terpendam yang mengganggu Edu terhadap kondisi aktual Indonesia saat ini, yaitu seberapa besar peran dan pengaruh sekolah dalam menubuhkan sekaligus munumbuhkan “jiwa besar” pada mentalitas anak-anak? Proses pembelajaran apa yang dapat dijadikan acuan untuk merangsang siswa agar memiliki sikap hormat dan jiwa besar dalam menerima setiap keadaan? Jika dua pertanyaan ini dapat dijawab oleh pengelola sekolah dan otoritas pendidikan kita secara komprehensif dan bertanggungjawab, pastilah para orangtua tak akan ragu akan perkembangan mentalitas anak-anak mereka. Tetapi jika pertanyaan ini tak terjawab dalam praktek dan proses belajar mengajar di ruang-ruang kelas, maka kita patut khawatir akan masa depan Indonesia sebagai sebuah negara.
Lihatlah bagaimana para pemimpin kita saat ini yang masih bersifat kekanak-kanakan (childish). Mungkin karena masa kecilnya kurang bahagia, maka istilah-istilah yang mengemuka dalam usaha meraih popularitas pun menggunakan nama-nama mainan seperti yoyo, gasing, dan tari poco-poco. Tak ada dialog, tak ada komunikasi, apalagi menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Edu tak dapat membayangkan, kesan apa yang ditangkap para siswa ketika mengetahui para pemimpin bangsa ini tak menunjukkan jiwa besar mereka. Mungkin sangat sah jika dikatakan bahwa perilaku kepemimpinan bangsa ini merupakan produk dari sistem pendidikan kita yang kering hati nurani dan keluar dari common platform moral yang menjadi asas kepercayaan masyarakat Indonesia: Masyarakat yang beradab dan taat beragama.
Peter Senge dalam The School That Learns menegaskan tentang perlunya beberapa keahlian yang harus dimiliki oleh komunitas sekolah dalam mengelola pendidikan. Di antaranya adalah bertindak dengan otonomi yang lebih luas, berani mengambil kesimpulan, memimpin juga dipimpin, mempertanyakan masalah yang sulit dengan sikap yang baik, dan menerima kekalahan sehingga mampu membangun kemampuan untuk keberhasilan di masa mendatang. Untuk itu setiap sekolah membutuhkan guru-guru yang dapat membuat inovasi bahan ajar secara kreatif dalam rangka menubuhkan sekaligus menumbuhkan sikap hormat dan menghargai (respect) orang lain secara santun. Jika tidak maka jangan berharap anak-anak kita ke dedpan akan memiliki jiwa besar.
Dalam bahasa Peter Drucker, inovasi adalah sebuah usaha yang sistematis dan bertujuan dalam rangka mencari perubahan dan kesempatan (the purposeful and systematic search for change and opportunity). Inovasi pembelajaran harus didesain secara sadar, sistematis dan terukur oleh otoritas pendidikan kita, karena hal tersebut sejalan dengan amanah undang-undang tentang sistem pendidikan nasional kita. Kebijakan pendidikan kita harus mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hubungan demokratisasi dan pendidikan. Proyek Pendidikan Nasional yang progresif hendaknya diarahkan pada penyiapan generasi muda untuk menjadi Warga Negara yang aktif, dedikatif dan komitmen terhadap perwujudan kehidupan yang demokratis, sehingga anak-anak kita akan memiliki kemampuan befikir secara kritis, mempunyai rasa efikasi, dan empati terhadap orang lain.
Momen pemilu di tahun 2009 ini, sekali lagi, akan memberikan gambaran ke mana dan bagaimana sesungguhnya arah pembangunan pendidikan kita ke depan. Edu berharap bahwa anak-anak di sekolah kita dapat belajar secara langsung dari para pemimpin mereka, tentang sikap menghargai dan tidak menang sendiri, sikap terbuka yang mengedepankan silaturahmi, serta sikap memaafkan agar tercipta rekonsiliasi nasional sehingga anak-anak dapat belajar dengan tenang di sekolah mereka masing-masing.
Sungguh inspiratif apa yang baru saja terjadi sebulan yang lalu di Amerika Serikat, ketika kita menyaksikan akhir dari sebuah kompetisi kepemimpinan nasional. Hillary Clinton yang sebelumnya menjadi lawan terkuat Barack Obama dalam konvensi partai demokrat, secara elegan memberikan dukungan penuhnya kepada Obama dan mengakui kekalahannya. Bahkan kita tahu, Hillary secara terbuka menerima tawaran Obama untuk menjadi Menteri Luar Negeri pada kabinetnya. Edu membayangkan, mungkinkah jika SBY menang kembali, Megawati akan menerima tawaran SBY untuk menjadi, misalnya, Menteri Sosial pada kabinet SBY? Atau sebaliknya, jika Megawati yang menang, mungkinkah SBY mau menerima tawaran Megawati untuk menjadi Menteri Daerah Tertinggal? Wallahu a’lam bi al-shawab.
Senin, 15 Maret 2010 12:02:00 WIB
GOMBALISASI atau GLOBALISASI?
By : Ahmad Baedowi
Tersebutlah sebuah perusahaan pengeboran minyak dari Eropa yang telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1968. Entah telah berapa juta kilo barrel minyak dieksplorasi dari Delta Mahakam, namun rakyat di sana masih tetap bodoh dan anak-anak lulusan sekolah dari daerah tersebut belum memiliki akses langsung untuk bekerja di perusahaan tersebut. Pemerintah Daerah setempat selama puluhan tahun seperti terbius oleh janji manis perusahaan, sehingga tak memiliki imajinasi untuk sekedar bereaksi atas eksploitasi sumberdaya alam yang berlimpah. Di sisi lain secara diam-diam perusahaan telah melakukan pembodohan sumberdaya manusia lokal karena tak memberinya ruang pemberdayaan melalui pengelolaan sekolah-sekolah yang baik dan bermutu.
Hal yang sama selama puluhan tahun juga terjadi di Aceh dan Papua. Anak-anak usia sekolah dan sekolah mereka malah menjadi korban salah kebijakan. Kebijakan dimaksud selama puluhan tahun lalu memang sangat merugikan dunia pendidikan, di mana baik otoritas pendidikan maupun pemerintah daerah seakan termakan isu gombalisasi dan sentralisasi pemerintah pusat. Jadilah pemda kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan perbaikan dunia pendidikan. Mudah-mudahan cerita pilu tentang eksploitasi sumberdaya ini tak terjadi di Bojonegoro, salah satu kabupaten yang kaya sumber minyak, namun jika salah dalam melakukan perencanaan pengembangan pendidikannya akan bernasib sama seperti Aceh, Papua dan Kaltim.
Agar tak salah arah, otoritas pendidikan kita harus peduli dengan upaya peningkatan mutu pendidikan. Seiring dengan proses demokratisasi yang membawa hawa segar ke arah perbaikan mutu pendidikan, maka penguatan fungsi dan peran pemerintah daerah dalam menata beragam ruang dan kebutuhan publik, termasuk di dalamnya pendidikan, menjadi lebih terbuka. Bahkan atas nama globalisasi dan keinginan mengejar ketertinggalan, dunia pendidikan kita saat ini sangat gencar membuat beragam sekolah internasional. Pertanyaannya adalah, apakah kebijakan tersebut tepat di tengah masih terbatasnya akses dan kesetaraan (access and equity) pendidikan kita?
Masih sulit untuk menjawabnya, karena fenomena sekolah bertaraf internasional baru berlangsung dalam 4 tahun terakhir. Yang paling mungkin dikritisi adalah soal peran dan fungsi sekolah tersebut dalam memilih desain kurikulum yang sesuai dengan budaya lokal. Tanpa penghargaan terhadap budaya lokal maka proses globalisasi yang akan diperkenalkan melalui program internasional bisa jadi merupakan proses pembodohan (stupidity) secara terencana.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian otoritas pendidikan kita tentang program internasional ini adalah bagaimana membangun hubungan dan komunikasi dengan perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Memang ada banyak konsep Corporate Social Responsibility (CSR) yang saat ini dikembangkan dan dilakukan oleh perusahaan. Tetapi tanpa konsep pemberdayaan yang berkesinambungan, maka CSR hanya akan menjadi “wajah malaikat” perusahaan saja, tinimbang memberdayakan. Itulah yang terjadi di Aceh, Papua dan Kaltim, di mana perusahaan hanya membantu hal-hal yang bersifat sporadis dan jangka pendek seperti bantuan fisik dan pembelian alat belajar-mengajar. Dalam teori School Business Management versi Dennis R. Dunklee (2003), tipologi perusahaan seperti ini hanya melakukan peran helping-hand relationship.
Masih menurut Dunklee, sejatinya kita harus dapat menuntut lebih dari para perusahaan tersebut, dengan misalnya melakukan serangkaian kegiatan pemberdayaan pendidikan dalam cakupan jangka panjang (long lasting compact and collaborative effort) yang dapat memengaruhi dengan baik kebijakan pengembangan pendidikan pada suatu daerah. Perubahan kebijakan (policy change) harus menjadi agenda dari setiap produk CRS sebuah perusahaan, karena dengan kerangka itulah masa depan, kesinambungan dan daya tahan sebuah perusahaan akan memperoleh jaminan dari komunitas sekitar.
Akan lebih baik lagi jika hubungan antara dunia usaha, pemerintah dan sekolah dilembagakan dalam sebuah regulasi yang memadai. Hal ini diperlukan agar jangan sampai terulang dunia usaha lepas tangan dan cuci kaki dari setiap tanggungjawabnya. Sementara mereka berasyik ma’syuk mengkeksploitasi sumberdaya alam kita, sekolah-sekolah yang minimal berlokasi di lingkungan tempat mereka beroperasi tak memperoleh keuntungan yang setimpal dan memadai.


Pendidikan
Senin, 15 Februari 2010 15:43:00 WIB
Pendidikan Budaya Tayangan
By : Ahmad Baedowi
Salah satu tantangan pendidikan kita saat ini selain ketidakmampuan birokrasi dan ketidakberdayaan masyarakat adalah pesatnya arus informasi melalui mass media seperti televisi dan internet yang menawarkan gaya hidup (life style) dan budaya popular. Keduanya menyediakan peluang sekaligus tantangan bagi masa depan dunia pendidikan kita, baik berupa pengaruh terhadap proses belajar mengajar di kelas maupun pola asuh orangtua di rumah (Gupta, 2000). Seperti diketahui pendidikan merupakan sebuah cara paling kuat untuk mengubah struktur budaya masyarakat. Dan pendidikan massal melalui media massa seperti TV, internet, dan surat kabar/majalah merupakan bentuk lain dari transplantasi budaya, di mana proses inflitrasi budaya satu ke budaya lainnya berlangsung secara intensif dan dapat menyebabkan terjadinya penghapusan budaya (cultural genocide) secara perlahan-lahan (Nandy: 2000).
Paradigma dalam perkembangan teknologi informasi dan kapitalisasi ekonomi dalam kebijakan tayangan televisi jelas harus dicermati secara seksama oleh para pengambil kebijakan bidang pendidikan di Indonesia. Sebagai basis pendidikan massal paling efektif, tayangan televisi memiliki peluang untuk mengubah tatanan budaya loKal karena baik konten maupun rancangan program tayangan televisi bisa jadi merupakan manifestasi dan justifikasi superioritas budaya tertentu yang belum tentu semuanya baik (Dighe: 2000).
Hasil riset menunjukkan bahwa dampak tayangan televisi yang banyak menampilkan kekerasan, mistisisme, hura-hura ala sinetron dapat menyebabkan anak-anak muda usia sekolah mengalami depresi dan sakit jiwa. Bahkan dalam bahasa seorang sutradara Peter Weir, sebagai “toxic culture,” sebuah tayangan yang terlalu memamerkan kekerasan sangat tidak mendidik dan dapat menyebabkan kriminalitas di usia muda meningkat, egoisme tambah menjadi-jadi, bahkan juga dapat merusak lingkungan dan budaya sekolah yang tidak sehat. (Bennet: 2000; Gidley: 2000).
Ketika zaman televisi masih dimonopoli oleh TVRI, mungkin peran pendidik (guru dan orangtua) tak terlalu berat dan melelahkan. Di samping jenis tayangan yang memang masih terbatas, tetapi bentuk tayangan juga masih mempertimbangkan aspek budaya lokal masing-masing daerah di Indonesia. Tayangan Si Unyil, drama Losmen, serial Aku Cinta Indonesia (ACI) begitu digemari dan menjadi rujukan para guru dan orangtua.
Sebagai bangsa yang menghargai nilai-nilai kebersamaan dan kegotong-royongan dalam masyarakat, bentuk tayangan yang tersaji di depan kita saat ini sangat mengganggu perkembangan kepribadian anak. Selain televisi, patut juga diperhatikan regulasi tayangan dalam bentuk permainan (games) yang merambah hingga ke telepon seluler. Jenis pendidikan massal seperti ini pasti akan meningkatkan “egoisme” siswa secara negatif dan menjurus ke individualisme yang akan berakibat serius pada keterpecahan keluarga dan struktur sosial, sehingga pada akhirnya akan meruntuhkan akar-akar budaya lokal yang solid dan alami. Dapat dibayangkan betapa berat dan sulitnya para guru untuk berlomba kreativitas dengan tayangan elektronik ini. Karena itulah beberapa hasil riset tentang kekhawatiran pengaruh tayangan berbasis teknologi informasi terhadap pendidikan merekomendasikan langkah-langkah metodologis proses belajar mengajar agar menggunakan pendekatan holistik, pro-active social skills seperti resolusi konflik dan metode cooperative learning.
Langkah metodologis ini tentu saja harus diiukuti oleh beragam jenis pelatihan yang harus membekali guru agar lebih kreatif dan imajinatif dalam mengawal proses belajar mengajar anak-didik mereka. Kebijakan tentang pelatihan dan uji sertifikasi dalam rangka meningkatkan kualitas guru agar dapat bersaing dengan ragam jenis tayangan adalah sebuah keharusan. Diperlukan bukan hanya pemetaan yang komprehensif tentang kapasitas guru secara akademis dan sosial-emosional, tetapi juga harus disertai dengan asesmen tentang dampak tayangan terhadap anak didik agar ada regulasi yang tepat dan benar tentangnya. Di tengah keragaman budaya dan arus globalisasi yang tidak mungkin kita hindari, kemampuan guru secara emosional tentang budaya mengajar berbasis perkembangan mental anak adalah sebuah keniscayaan. Jika seorang guru secara emosional tidak mampu mendeteksi antusiasme anak didik mereka dalam mengikuti pelajaran, maka yang biasa terjadi di dalam kelas adalah terjadinya “tekanan sosial” guru terhadap siswanya agar lebih taat karena posisi guru secara sosial pasti lebih tinggi dari siswanya.


Selasa, 22 Desember 2009 09:44:00 WIB
Imajinasi = Ijtihad
By : Ahmad Baedowi
Pernah suatu ketika Edu mendengar Guru Sarmili mengutip sebuah hadits yang isinya tentang kepantasan sahabat Umar Bin Khattab untuk menjadi Rasul sesudah Nabi Muhammad. Hadits Nabi tersebut lebih kurang berbunyi ”Jika ada orang yang pantas sesudahku untuk menjadi Nabi dan Rasul, maka orang tersebut pastilah Umar Bin Khattab RA.” Hadits ini dalam pandangan Edu penuh dengan daya imajinasi Rasul Muhammad, yang bukan hanya tak dapat dibaca secara sederhana, tetapi juga mengandung begitu banyak pertanyaan mendasar tentang masa depan umat manusia. Jika hal ini terjadi, pastilah keputusan Rasul Muhammad tersebut merupakan ijtihad terbesar dalam sejarah hidup beliau.
Jauh hari sesudah itu barulah Edu mengerti, mengapa Rasul Muhammad menaksir Sahabat Umar untuk menjadi pengggantinya. Dalam sejarah, Khalifah Umar terkenal memiliki sikap dan sifat tegas, pemberani, cerdas, kreatif, baik hati dan jujur. Semua sifat baik Umar tersebut terekam dengan baik di mata hati Rasul Muhammad, sehingga dalam prediksi beliau pastilah sifat-sifat Umar tersebut sangat dibutuhkan untuk tujuan-tujuan kemanusiaan ke depan.
Dari sudut pandang pedagogis, sifat-sifat Khalifah Umar amat dibutuhkan guru dan anak didiknya dalam upaya mengembangkan budaya avonturir; menjelajah alam pikiran dan pengetahuan dengan penuh keberanian, mau mengambil resiko tapi disertai dengan kejujuran, dan kemampuan mengelola imajinasi secara kreatif. Jika budaya ini tumbuh subur di lingkungan sekolah kita, pastilah anak Indonesia akan tumbuh menjadi serangkaian karakter Umar yang bukan hanya berani, tegas, dan jujur, tetapi juga kreatif sekaligus imajinatif.
’Imajinasi lebih menentukan ketimbang ilmu pengetahuan,’ demikian petuah Albert Einstein. Membuat anak didik kita berani dalam berimajinasi adalah tugas kita semua, para guru dan orangtua. Sebab Edu yakin benar bahwa keberanian melakukan imajinasi sama dengan berijtihad, yaitu kemampuan berlaku, berpikir dan berusaha secara sungguh-sungguh. Dalam bahasa agama, sekalipun terdapat kesalahan dalam berijtihad, maka seseorang akan memperoleh satu pahala. Sedangkan jika ijtihadnya benar, maka kepadanya akan dinisbatkan dua pahala sekaligus. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah budaya menumbuh-kembangkan imajinasi ini telah menjadi perhatian serius dari para praktisi dan pengambil kebijakan otoritas pendidikan kita?
Edu sedikit pesimis menjawab pertanyaan tadi. Rasa-rasanya budaya belajar di sekolah kita masih jauh dari keberanian mengambil resiko ini, selama para guru dan orangtua masih setia pada pola asuh dan pola ajar yang menggunakan pendekatan stimulus-respon (behaviorisme). Bahkan masyarakat kita pun menjadi takut menerima imajinasi seseorang. Sebutlah misalnya kasus Blue Energy dan Banyu Geni, dua usaha imaginatif yang dilakukan oleh perorangan dan kampus, tetapi tak mendapat respon publik secara positif. Imaginasi mereka seakan bukan sebuah ijtihad, sehingga penemunya harus dicacimaki dan diintimidasi, Rektor UMY terpaksa harus mundur, karena penemuan dan kebijakan mereka dianggap melawan common-sense. Sungguh ironis, sebuah organisasi sebesar Muhammadiyah sebagai pengusung utama tajdid (pembaharuan) dalam bidang sosial dan pendidikan di tanah air sekalipun, takut melakukan kesalahan.
Viktor Frankl pernah bilang, bahwa ada empat anugerah Ilahi yang terdapat dalam diri manusia, yaitu (1) kesadaran diri (self-awareness); (2) suara hati (consciense,); (3) kehendak bebas (Independent will,); dan (4) daya imajinasi (imagination,). Semua itu berkaitan dengan kerja akal dan hati sekaligus, tempat di mana kreativitas harus dihargai secara selayaknya. Jika kita tak mampu menghargai sebuah imajinasi, maka jangan berharap dunia pendidikan kita akan menghasilkan ilmuwan berkaliber. Bahkan yang mungkin tumbuh adalah anak didik dengan rasa keputus-asaan, frustasi, dan jauh dari kreatif.
Edu tak tahu harus menafsir apa, ketika di ruang kelas ada seorang siswa mengajukan pertanyaan imajinatif dengan kata ’seandainya’ ,. ”Seandainya Khalifah Umar Ibnu Khtattab benar menjadi Nabi setelah Nabi Muhammad dan masih hidup di zaman sekarang, pasti dia akan memilih John Lennon sebagai Nabi sesudahnya.” ”Apa alasanmu?” Kata Edu. ”Iya dong, dengarlah lagu Imagine, sangat menyentuh sekaligus menggugah dalam kondisi dunia yang semakin tak jelas ini.” Waduh, apakah ini sebuah logika imajinatif atau tanda keputus-asaan seorang siswa? Wallahu a’lam bi al-sawab.
ARTIKEL TERKAIT :

Related Post:

Tidak ada komentar: