Hi...Sobat... Gimana kabarnya hari in??? hehhe...semoga selalu baik ya?? eh, sebelum aku lupa...aku mau perkenalkan diri ne... Nama : Ary Janu TTL : Manggarai-Flores, 10 April Riwayat Pendidikan: SDK Mbata, Kec. Kota Komba Kab. Manggarai Timur SLTPK St. Fransiskus Xaverius Ruteng Manggarai SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo, Manggarai Barat Kini sedang mengenyam pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Hobby : Menulis, Olahraga dan bermusik Mungkin itu aja ya sobat.... salam kenal dan salam blogger....
Untuk mendapatkan suatu prestasi tidaklah semudah yang dibayangkan, karena memerlukan perjuangan dan pengorbanan dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi. Penilaian terhadap hasil belajar siswa untuk mengetahui sejauhmana ia telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar. Seperti yang dikatakan oleh Winkel (1997:168) bahwa proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan dan pemahaman, dalam bidang nilai, sikap dan keterampilan. Adanya perubahan tersebut tampak dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan, persoalan atau tugas yang diberikan oleh guru. Melalui prestasi belajar siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar. Sedangkan Marsun dan Martaniah dalam Sia Tjundjing (2000:71)berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan, yang diikuti oleh munculnya...
PENDAHULUAN Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki bunyi bahasa tanpa melihat fungsi bunyi itu sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa. Kata lain Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan berusaha merumuskan secara teratur tentang hal ikhwal bunyi bahasa. Menurut segi bunyi bahasa, fonetik dapat dibagi menjadi tiga jenis sebagai berikut : 1. Fonetik Organis: fonetik yang mempelajari mekanisme alat-alat bicara yang ada dalam tubuh manusia menghasilkan bunyi bahasa. 2. Fonetik Akustis: mempelajari bunyi bahasa dari segi bunyi sebagai gejala fisis. 3. Fonetik Auditoris: mekanisme telinga menerima bunyi bahasa sebagai getaran udara. Awal mula terjadinya bunyi → adanya udara dari paru-paru. Udara dihisap ke dalam paru-paru dan dihembuskan keluar pada saat bernafas. Udara yang dihembuskan kemudian mendapatkan hambatan diberbagai tempat alat bicara dengan berbagai cara, dan terjadilah bunyi bahasa. Empat macam proses terjadinya bunyi bahasa yaitu proses mengalirnya udara, proses fonasi, ...
PSIRB 301: Marxisme: Religi, Politik & Ideologi. Dosen: G.J. Aditjondro. Handout No. 7: -------------------------------------------------------------------------------------------- George Junus Aditjondro Pengantar: ADA berbagai aliran filsafat dan ilmu-ilmu social yang dapat digolongkan sebagai ’neo-Marxis’. George Ritzer, gurubesar sosiologi di Universitas Maryland, AS, mengidentifikasi enam aliran neo-Marxis, yakni (a). determinisme ekonomis, yang lebih banyak mengacu pada penafsiran Engels terhadap pemikiran Marx, khususnya Marx sebagai kritikus terhadap ekonomi politik kapitalisme di zamannya; (b). Marxisme Hegelian, yang lebih banyak mengacu pada pengaruh pemikiran Hegel terhadap Marx ; (c). Teori Kritis, yang berkembang dari mazhab Frankfurt yang lebih banyak memusatkan perhatian pada perkembangan kapitalisme lanjut di bidang media dan budaya; (d). Marxisme struktural, yang ingin membebaskan Marxisme dari semua pengaruh Hegel, humanisme, dan agency para aktor; (e). sosiolo...
Pengantar Tema ini terasa relevan sekaligus menantang, ketika kita mencermati praksis politik serta implementasi demokrasi dalam peristiwa Pemilu tahun 2009 ini. Yang dijumpai adalah suatu praksis politik dan demokrasi pro-forma, sekedar komestika di permukaan, dengan cacat-cacat yang mengabaikan substansi demokrasi itu sendiri. Praksis politik dan demokrasi sejatinya tidak saja berhubungan dengan kodrat sosial manusia, tetapi juga dengan kodrat manusia sebagai makhluk moral. Dengan moralitas di sini dimaksudkan pertama-tama suatu kualitas manusiawi yang terutama terrelasisasi dalam relasi-relasi sosial, karena manusia tidak bisa tidak berhubungan dengan orang lain (makhluk sosial). Relasi-relasi itu memiliki kualifikasi moral karena mesti terarah kepada pengembangan diri pribadi dan komunitas sosial manusia itu sendiri. Budaya lahir dari baik sosialitas maupun moralitas yang melekat pada keberadaan manusia itu sendiri. Karena itu praksis relasi tidak dapat mengecualikan moralitas (eti...
Komentar