Selasa, 27 April 2010

KEMISKINAN DAN KESUCIAN KOSMIK ST. FRANSISKUS ASSISI

Pengantar

Dalam kekristenan umum dikenal adanya pandangan tentang lingkungan hidup atau alam ciptaan yang berciri sacramental. Maksudnya adalah bahwa alam ciptaan bukan sekedar makhluk hidup atau makhluk ciptaan, tetapi bahwa kesmua itu memperlihatkan dan memancarkan keagungan, kemuliaan dan kebesaran Sang Pencipta. Jadi alam raya dan segala isinya merupakan sakramen: tanda dan sarana kehadiran Allah. Pandangan ini terutama dipromosikan oleh St. Fransiskus Assisi dan merupakan salah satu cirri khas dari spiritualitasnya.
Pandangan tentang alam raya yang berciri sacramental ini mencegah berkembangnya pandangan dualisme yang memisahkan Pencipta dan ciptaan, tubuh dan jiwa, langit dan bumi, dllsb. Pandangan sacramental ini bersumber pada KS. Dalam kitab Mazmur misalnya kita menemukan bagaimana orang Israel mengungkapkan kekaguman serta syukurnya atas alam ciptaan yang memperlihatkan kebesaran dan keindahan Pencipta. Ciptaan memperlihatkan kebesaran dan keagungan, keindahan dan kelembutan Allah.
Kalau demikian maka sebenarnya manusia dapat berjumpa, mengalami dan mengkontemplasikan Allah dalam dan melalui ciptaan-Nya, karena alam adalah sarana komunikasi Allah. Sayangnya, pandangan sacramental tentang alam ciptaan ini tidak berkembang dalam 1000 tahun pertama kekristenan. Orang-orang Kristen pada 1000 tahun pertama tidak mengembangkan dan menghidupkan spiritualitas ekologis, karena hal itu dinilai sebagai semacam kepercayaan sia-sia dan tidak kristiani. Sebaliknya alam atau dunia ini mesti diabaikan dan ditinggalkan kalau orang mau berjumpa dengan Allah. Kita ingat bahwa semboyan para rahib atau kaum religius masa itu adalah ‘fuga mundi’ (tinggalkan dunia!). Allah dijumpai dalam kesendirian dan kesepian padang gurun, bukan di tengah keramaian dan keindahan alam.

St. Fransiskus Assisi: Suatu Titik Balik
Menurut Leonardo Boff, St. Fransiskus mengakhiri model pencarian kesucian seperti itu. Ia tidak mencari dan menemukan Allah dengan melarikan diri dari alam ciptaan dan masyarakat. Tetapi ia menemukan dan mencari Allah dalam kehidupan nyata di dunia dan di tengah alam ciptaan. Kalau Fransiskus menyebutkan dalam Wasiat no 3 bahwa dia meninggalkan dunia, dunia yang dimaksudkannya bukan dunia ciptaan serta masyarakat, tetapi ‘dunia’ sebagai symbol kecenderungan dan keinginan menjauhi Allah dan kebenaran-Nya.
St. Fransikus Assisi memberikan suatu model kesucian yang berciri kosmik karena ia mengkotemplasikan kehadiran, keindahan dan kebesaran Allah dalam alam ciptaan-Nya. Alam ciptaan menjadi sakramen Allah dan Kristus. Karena itu spiritualitas St. Fransiskus adalah spiritualitas kosmik; kesucian yang dicapainya juga berdiri kosmik. Apa maksudnya? Maksudnya adalah bahwa dia berjumpa dan mengkontemplasikan Allah Tritunggal serta menikmati kehadiran-Nya dalam alam ciptaan. St. Fransiskus memulai suatu spiritualitas baru yang tidak lagi dicirikan oleh hidup menyendiri di padang gurun untuk melakukan pertobatan, tetapi memulai suatu spiritualitas yang hidup, konkret, manusiawi, sensible, puitis dan memiliki hati.

Spiritualitas Kosmik dan Kemiskinan St. Fransiskus
Bagaimana memahami relasi Fransiskus dengan alam serta kemiskinan? Ada tiga pokok yang ingin saya sampaikan di sini: Fransiskus adalah seorang penyair; Fransiskus memahami bahwa segala sesuatu berasal-usul sama; Fransiskus menjalni hidup miskin secara radikal.รน
Kita kenal baik bahwa Fransiskus adalah seorang penyanyi jalanan yang suka akan kegembiraan, pesta dan keindahan. Fransiskus memiliki kekuatan ‘eros’ – hasrat akan hidup dan cinta yang amat kuat dan ‘eros’ tersebut diresapi dengan amat kuat oleh ‘agape’ – yakni cinta yang memberi diri, bebas dari egoisme dan nafsu memiliki, serta terbuka terhadap Yang Mutlak. Agape tidak mengambil-alih ‘eros’, tetapi menyempurnakannya, meningkatkannya, memperluas dan memperdalam sampai menemukan sumber agape itu sendiri yakni Allah. Karena itu Fransiskus mampu melihat dan menafsirkan segala sesuatu sebagai penyataan kehadiran Allah, penyataan rahmat Allah, penyataan diri Allah. Fransiskus mampu mengalami semua itu sebagai pribadi, sesama ciptaan, sehingga ia menyapa mereka saudara dan saudari.
Tetapi Fransiskus tidak berhenti di situ. Baginya alam ciptaan bukan hanya sekedar sarana penampakan diri Allah. Fransiskus mengakui nilai segala ciptaan di hadapan Allah. Bhawa alam ciptaan itu bernilai pada dirinya di hadapan Allah. Fransiskus tidak hanya menghayati alam ciptaan sebagai sarana, tetapi ‘sesama’ yang membantu dia untuk sampai pada Allah. Karena itu sikap Fransiskus kepada alam didasarkan pada pengalaman dan pengenalannya akan Allah, yang disebutnya: Deus meus et omnia. Ia mengalami Allah dalam segala sesuatu dan mengalami segala sesuatu di dalam Allah.
Fransiskus pun menerima dan mengakui bahwa alam ciptaan memberikan kehidupan serta dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tetapi dalam spirit kosmiknya, Fransiskus menggunakan segala sesuatu dengan hormat dan syukur. Alam ciptaan bukan sekedar sumber-sumber alam dan sumber ekonomi, tetapi saudara dan saudari, bernilai dalam dirinya, lepas dari kebutuhan manusia. Konsep Fransiskus tentang nilai bukanlah konsep ekonomis atau utilitarian, tetapi teologis.
Nilai segala sesuatu bersumber pada keterkaitan dan kesatuannya dengan Allah Pencipta, karena itu segala sesuatu adalah suci. Kesucian alam ciptaan dalam pendangan Fransiskus dipertegas oleh peristiwa inkarnasi di mana Allah menjadi manusia, mengambil wujud ciptaan. Pengalaman akan kehadiran Allah dalam segala sesuatu mengubah Fransiskus secara total, sehingga penulis riwayat hidupnya menyebut Fransiskus sebagai ‘manusia dari dunia yang lain’, manusia surgawi yang dianugerahkan kepada dunia.
Itulah sebabnya Fransiskus dapat menawarkan suatu cara berada baru di dunia, berada di dunia dengan segala seusatu atau dalam kesatuan dengan segala sesuatu. Fransiskus tidak berada di atas ciptaan untuk menguasai mereka, tetapi dia berada bersama mereka, emngasihi mereka dan hidup bersama ciptaan sebagai saudara dan saudari. Fransiskus memulai cara hidup baru di dunia yang sekarang dikenal dengan sebutan ‘ecosophy’, suatu istilah yang diperkenalkan Arne Naess.
Kesadaran diri Fransiskus sebagai saudara dari sesama ciptaan bersumber pada kesadaran sakramentalnya akan segala sesuatu serta kesadaran akan dirinya di tengah segala sesuatu serta di hadapan Allah. Fransiskus menjadi seorang ‘penyanyi Tuhan’ atau penyair yang sampai pada pengalaman transfigurasi dari segala sesuatu serta penemuan akan keberhubungan segala sesuatu dengan satu sumber abadi yakni Allah Pencipta. Keberhubungan segala sesuatu menyadarkan Fransiskus akan relasi simbiosis atau komplementar dari segala sesuatu dalam suatu ecosystem raksana, sebagai suatu keluarga alam semesta. Segala sesuatu bernilai karena mereka adalah saudara dan saudari serta dalam keseluruhan kesatuan makhluk ciptaan itulah Fransiskus mengalami serta menyadari siapa dirinya di tengah alam ciptaan dan di hadapan Pencipta.
Kalau sesgala sesuatu itu merupakan satu kesatuan, hal itu disebabkan karena segala sesuatu bersumber dalam persekutuan Tritunggal. Inilah dasar dari klaim bahwa Allah hadir dalam segala sesuatu dan terus bekerja dalam segala sesuatu. Segala sesuatu berasal dari Yang Satu dan menghadirkan Pencipta yang tunggal.
Karena itu Fransiskus menyebut seluruh dunia adalah rumahnya (biaranya), karena dia berada bersama segala sesuatu dan di tengah saudara-saudari ciptaan. Fransiskus bersuka cita karena kesatuannya dengan alam ciptaan. Yang tidak mengutamakan perbedaan yang membuat dirinya mesti dipisahkan dari yang lain, sebaliknya yang mengutamakan kesamaan dan kesatuan sehinggal dia berlaku lemah lembut terhadap segala sesuatu. Manusia bukan hanya makhluk berakal budi, tetapi saudara dan saudari dari segenap ciptaan, sehingga ketia dia bernyanyi, dia bernyanyi bersama seluruh ciptaan. Ia tidak bernnyanyi melalui ciptaan, tetapi membuka telinganya mendengarkan pujian ciptaan dan bersama ciptaan itu dia memuji Allah. Sekali peristiwa dia mengajak para saudara untuk tidak berdoa di kapel, tetapi pergi ke tengah alam karena pada saat yang sama burung di sekitar biaranya berdendang riang.
Kidung Saudara Matahari merupakan pengendapan mistik kosmik Fransiskus serta cintanya akan kemiskinan. Dalam mistik kosmik Fransiskus segala sesuatu memiliki kesatuan dasar yang sama bahwa mereka adalah ciptaan. Sumber dan asal usul kesatuan itu adalah Allah sendiri, yang menciptakan segala sesuatu dari dari ketiadaan (ex-nihilo). Semua ciptaan tidak menciptakan dirinya sendiri. Kesadaran akan kesatuan serta kesamaan semua ciptaan di hadapan Pencipta membuat Fransiskus terkagum-kagum dan mengakui dengan tulus: Tuhanku dan segalanya.
Kesadaran inilah yang melandasi semangat dan spiritualitas kemiskinan St. Fransiskus. Kemiskinan pada Fransiskus bersumber pada kesadaran bahwa kita manusia ini tidak berada dari diri kita sendiri; kita tidak berada karena kehendak kita sendiri; kehebatan dan kekuatan kita sendiri. Dari diri kita sendiri kita tidak punya alasan untuk berada.
Karena itu kemiskinan pada Fransiskus bukan suatu bentuk atau sikap menolak atau tidak menghendaki untuk memiliki sesuatu sebagai harta milik. Kemiskinan adalah kebebasan untuk mencintai dan menghormati segala sesuatu sebagais aduara dan saudari. Keinginan untuk memiliki menurut Fransiskus bersumber pada keinginan untuk menguasai dan mengontrol sesama sesuai dengan keinginan dan kepentingan kita sendiri.
Kemiskinan Fransiskus adalah suatu komitmen eksistensial yang bersumber pada pengenalan dan pengalamannya akan Allah, dirinya, sesama dan ciptaan. Kesadaran inilah yang mendorong Fransiskus untuk memulai suatu cara berada baru di dunia: membebaskan diri dari segala sesuatu, membiarkan segala sesuatu dalam dirinya, lepas bebas dari kekuasaan dan keinginan untuk menguasai. Jadi kemiskinan pada Fransiskus bukan lagi sekedar suatu kebajikan, tetapi suatu cara berada, suatu cara hidup, yang bersumber pada pengalaman akan Allah, pengenalan akan diri dan kesadaran akan alam semesta. Kemiskinan seperti ini ditopang oleh asketisme dan penguasaan diri.
Karena bebas dari segala sesuatu, maka Fransiskus pun bebas dalam segala sesuatu, tak ada yang ditakui dan dicemaskan, karena ia menjadi bagian dari segalam sesuatu dalam kesatuan hidup dan cara berada. Kemiskinanlah yang mempersatukan segala sesuatu. Kemiskinan adalah perwujudan kesadaran bahwa manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, tetapi oleh Allah. Dalam kesadaran ini maka semua makhluk ciptaan sama derajatnya.
Inkarnasi bagi Fransiskus a dalah sueatu model atau contoh nyata dari kemiskinan absolut. Yesus melepaskan segala sesuatu agar merangkul segala sesuatu. Fransiskus pun ingin menyerupai Yesus. Fransiskus melepaskan segala sesuatu, sehingga dia menjadi bebas untuk segala sesuatu. Fransiskus membebaskan diri dari keinginan untuk menguasai dan mengonmtrol sesuatu sesuai keinginannya sendiri.
Fransiskus sadar bahwa keinginan untuk memiliki, menguasai dan mengontrol adalah sumber dari segala macam konflik dan perselisihan. Sebaliknya kemiskinan adalah pembebasan dari hawa nafsu dan cinta diri; membebaskan orang dari keinginan tak teratur dan nafsu kuasa. Kemiskinan memajukan rasa hormat dan syukur atas segala sesuatu; kemiskinan adalah pembebasan untuk merangkul segala sesuatu dalam persaudaraan universal. Kemiksinan menyadarkan kita bahwa kita manusia adalah makhluk ekologis, bukan hanya makhluk sosial dan rasional.


Bacaan Referensi:
1. AngTBul : IX-X.
2. AngBul : IV-VI
3. Was 24-26
4. Petuah II,

Related Post:

Tidak ada komentar: