Postingan populer dari blog ini
Mengapa Harus Bermimpi?
Pada hakikatnya mimpi merupakan bayangan peristiwa atau apa saja yang tampak dalam tidur dan kemungkinan untuk tercapai sangat rendah. Namun, dalam konteks ini mimpi bukan lagi dipandang sebagai “bunga tidur” yang tidak mungkin terjadi. mimpi diartikan sebagai khayalan yang masih mungkin tercapai meskipun belum ada gambaran bagaimana cara mencapainya. Terkadang manusia beranggapan bahwa mimpi itu tidak ada maknanya atau menganggap itu hanya sebagai mitos. Tetapi bukan demikian. Apakah kita harus bermimpi? Seperti dalam lagu “Laskar Pelangi” dari band Nidji mengatakan bahwa mimpi adalah kunci agar kita bisa menaklukkan dunia. Apakah dunia itu diciptakan dari sebuah mimpi? Nah, yang mengimpikan semua itu adalah Tuhan. Kita sebagai manusia pun merupakan hasil dari sebuah mimpi yang kini menjadi nyata. Haruskah kita bermimpi? “Berpikir bisa” itu adalah ungkapan yang dikeluarkan dari mulut seseorang, yang masih terlintas dalam pikiran saya. Jika kita ...
Model-Model Pembelajaran (PPSI, Kemp, Banathy, Dick and Carey)
1. Model Pembelajaran PPSI ( Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) PPSI merupakan proses dalam mengembangkan pengajaran sebagai suatu sistem, yaitu sebagai kesatuan yang terorganisir, yang memuat sejumlah unsur antara lain tujuan, materi, metode, alat bantu dan evaluasi pembelajaran. PPSI adalah langkah-langkah pengembangan sistem instruksional yang mendasari efektivitas praktek pengajaran. Fungsi PPSI adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistemik dan sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar-mengajar. PPSI digunakan sebagai pendekatan penyampaian pada kurikulum 1975 untuk tingkat SD, SMP, dan SMA, dan kurikulum 1976 untuk sekolah lanjutan. PPSI menggunakan pendekatan sistem yang mengutamakan adanya tujuan yang jelas, sehingga dapat dikatakan bahwa PPSI merujuk pada pengertian sebagai suatu sistem, yaitu sebagai kesatuan terorganisasi yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling ...
Deiksis
1. Pengertian Dalam KBBI (2005:245), deiksis diartikan hal atau fungsi menunjuk sesuatu di luar bahasa; kata yang mengacu kepada persona, waktu, dan tempat suatu tuturan. Dalam kegiatan berbahasa. kata-kata atau frasa-frasa yang mengacu kepada beberapa hal tersebut penunjukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi pembicara, saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. Kata-kata seperti saya, dia, kamu rnerupakan kata-kata yang penunjukannya berganti-ganti. Rujukan kata-kata tersebut barulah dapat diketahui jika diketahui pula siapa, di mana, dan pada waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Dalam bidang linguistik istilah penunjukan semacam itu disebut deiksis (Yule, 2006:13). Kata deiksis berasal dari kata Yunani deiktikos yang berarti 'hal yang menunjuk secara 1angsung'. Dalam bahasa Yunani, deiksis merupakan istilah teknis untuk salah satu hal yang mendasar yang dilakukan dalam tuturan. Sedangkan isti1ah deiktikosyang dipergunakan oleh tat...
KESANTUNAN BERBAHASA: SEBUAH KAJIAN SOSIOLINGUISTIK
Oleh Masnur Muslich Pengertian Kesantunan Kesantunan (politiness), kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh karena itu, kesantunan ini biasa disebut “tatakrama”. Berdasarkan pengertian tersebut, kesantunan dapat dilihat dari dari berbagai segi dalam pergaulan sehari-hari. Pertama, kesantunan memperlihatkan sikap yang mengandung nilai sopan santun atau etiket dalam pergaulan sehari-hari. Ketika orang dikatakan santun, maka dalam diri seseorang itu tergambar nilai sopan santun atau nilai etiket yang berlaku secara baik di masyarakat tempat seseorang itu megambil bagian sebagai anggotanya. Ketika dia dikatakan santun, masyarakat memberikan nilai kepadanya, baik penilaian itu dilakukan secara seketika (mendadak) maupun secara konvensi...
Komentar