Selasa, 28 Agustus 2012

Model-Model Pembelajaran (PPSI, Kemp, Banathy, Dick and Carey)


1. Model Pembelajaran PPSI ( Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)

PPSI merupakan proses dalam mengembangkan pengajaran sebagai suatu sistem, yaitu sebagai kesatuan yang terorganisir, yang memuat sejumlah unsur antara lain tujuan, materi, metode, alat bantu dan evaluasi pembelajaran. PPSI adalah langkah-langkah pengembangan sistem instruksional yang mendasari efektivitas praktek pengajaran. Fungsi PPSI adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistemik dan sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar-mengajar.
PPSI digunakan sebagai pendekatan penyampaian pada kurikulum 1975 untuk tingkat SD, SMP, dan SMA, dan kurikulum 1976 untuk sekolah lanjutan. PPSI menggunakan pendekatan sistem yang mengutamakan adanya tujuan yang jelas, sehingga dapat dikatakan bahwa PPSI merujuk pada pengertian sebagai suatu sistem, yaitu sebagai kesatuan terorganisasi yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. PPSI merupakan model pembelajaran yang menerapkan suatu sistem untuk mencaai tujuan secara efektf dan efesien.

Langkah-langkah pokok model pembelajaran PPSI:
1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Dalam merumuskan tujuan instruksional yang dimaksud adalah tujuan pembelajaran khusus, yaitu rumusan yang jelas dan operasional tentang kemampuan atau kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Kemampuan-kemampuan tersebut harus dirumuskan secara spesifik dan teratur sehingga dapat diamati dan dievaluasi.
2. Mengembangkan Alat Evaluasi
Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan, langkah selanjutnya adalaha mengembangkan alat evaluasi, yaitu tes tang berfungsi untuk menilai sejauh mana siswa telah mengasai kemampuan atau kompetensi yang telah dirumuskan dalam tujuan pembelajaran khusus tersebut. Pengembangan alat evaluasi tidak dilakukan pada akhir dari kegiatan pembelajaran, tetapi setelah tujuan pembelajaran khusus ditetapkan. Hal ini didasarkan atas prinsip yang berorientasi pada hasil, yaitu penilaian terhadap suatu sistem pembelajaran didasarkan atas hasil yang dicapai. Dalam evaluasi perlu ditentukan terlebih dahulu jenis-jenis tes dan bentuk-bentuk tes yang digunakan. Hal ini sangat bergantung pada hakikat dan tujuan yang akan dicapai.
3. Menantukan Kegiatan Belajar-Mengajar
Setelah tujuan dan alat evaluasi diterapkan, langkah selanjutnya adalah menetapkan kegiatan belajar-mengajar, yaitu kegiatan yang harus digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam menentukan kegiatan belajar mengajar hal yang harus dilakukan adalah:
a. Merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
b. Menetapkan kegiatan belajar yang harus dilakukan dan yang tidak harus dilakukan oleh siswa.
c. Menetapkan kegiatan belajar yang masih perlu dilaksanakan oleh siswa.
Setelah kegiatan belajar siswa ditetapkan, perlu dirumuskan pokok-pokok materi pembelajaran yang akan diberikan pada siswa.
4. Merencanakan Program KBM
Titik tolak dalam merencanakan program kegiatan pembelajaran adalah suatu pelajaran yang diambil dari kurikulum yang ditetapkan jumlah jam/SKS-nya dan diberikan pada kelas dalam semester tertentu. Pada langkah ini perlu disusun strategi proses pembelajaran dengan cara merumuskan kegiatan mengajar dan kegiatan belajar yang dirancang secara sistematis sesuai kelas. Metode pembelajaran yang akan digunakan dipilih sesuai dengan tujuan dan karakteristik materi yang disampaikan.
5. Pelaksanaan
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan program ini adalah:
a. Mengadakan Pretest ( Tes Awal)
Fungsi tes awal ini adalah untuk memperoleh informasi tenteng kemampuan awal siswa sebelum mereka mengikuti kegiatan pembelajaran.
b. Menyiapkan Materi Pelajaran
Sebelum menyampaikan materi pelajaran, hendaknya guru menjelaskan dulu kepada siswa tujuan/kompetensi yang akan dicapai, sehingga mereka mengetahui kemampuan-kemampuan yang diharapkan setelah selesai pelajaran.
c. Mengadakan Posttest
Posttest diberikan setelah selesai mengikuti program pembelajaran. Tes ini berfungsi untuk menulai kemampuan siswa mengenai penguasaan materi pelajaran setelah pembelajaran dilaksanakan.

2. Model Dick and Carey (1991)
Model Dick and Carey, berorientasi pada hasil dan sistem. Karena dengan menerapkan model ini,maka akan menghasilkan bahan pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan model pengembangan ini menerapkan langkah-langkah yang sistematis. Model Dick & Carey dimulai dengan mengenali tujuan pembelajaran, melakukan analisis pembelajaran, mengenali tingkah laku masukan dan karakteristik pembelajar, merumuskan tujuan performasi, mengembangkan strategi pembelajaran, mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, mendesain dan melakukan penilaian normatif. Kemudian langkah terakhir ialah memperbaiki atau merevisi pembelajaran.

3. Model Kemp
Kemp mengembangkan model desain intruksional yang paling awal bagi pendidikan. Model Kemp memberikan bimbingan kepada siswanya untuk berpikir tentang masalah-masalah umum dan tujuan-tujuan pembelajaran.



Kelebihan:
Dalam model pembelajaran Kemp ini, di setiap melakukan langkah terdapat revisi terlebih dahulu guna menuju ke tahap berikutnya. Tujuannya ialah terdapat kekurangan di tahap tersebut, dapat dilakukan perbaikan sebelum melangkah ke tahap selanjutnya.

Kekurangannya:
Model pembelajaran Kemp condong ke pembelajaran klasikal atau pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, peran guru sangat berpengaruh besar, karena mereka dituntut dalam rangka program pengajaran, instrument evaluasi, dan stategi pengajaran.

Ada 8 langkah-langkah model pembelajaran Kemp antara lain;
1. Menentukan Tujuan Pembelajaran Umum atau Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam setiap pembelajaran.
2. Membuat analisis tentang karakteristik siswa. Analisis ini untuk mengetahui apakah latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program, serta langkah-langkah apa yang perlu diambil.
3. Menentukan tujuan pembelajaran khusus atau indikator, yaitu tujuan yang spesifik, operasional, dan terukur. Dengan demikian, siswa dapat mengetahui apa yang harus dipelajari, bagaimana cara mengerjakan, dan apa ukurannya bahwa siswa telah berhasil. Dari segi guru, rumusan itu berguna dalam menyusun tes kemampuan dan pemilihan bahan yang sesuai.
4. Menentukan materi/bahan pelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
5. Menentukan penjajagan awal (preassessment) atau pretest, yaitu untuk mengetahui sejauh mana siswa telah memnuhi persyaratan belajar. Dengan demikian, guru dapat memilih materi yang dibutuhkan dan diperlukan tanpa harus menyajikan materi yang tidak perlu dan siswa tidak cepat bosan.
6. Menentukan stategi belajar-mengajar dan sumber belajar yang sesuai. Kriteria umumnya yaitu: efisiensi, keefektifan, ekonomis, kepraktisan melalui suatu analisis alternative.
7. Koordinasi sarana penunjang yang diperlukan, meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan tenaga.
8. Mengadakan evaluasi, yaitu mengontrol dan mengkaji keberhasilan program secara keseluruhan yaitu siswa, program pembelajaran,instrument evaluasi, dan metode yang digunakan.

4. Model Banathy
Model pengembangan sistem pembelajaran ini berorientasi pada tujuan pembelajaran. Langkah-langkah pengembangan sistem pembelajaran terdiri dari 6 jenis kegiatan. Model desain ini bertitik tolak dari pendekatan sistem (system approach), yang mencakup keenam komponen (langkah) yang saling berinterelasi dan berinteraksi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Pada langkah terakhir para pengembang diharapkan dapat melakukan perubahan dan perbaikan sehingga tercipta suatu desain yang diinginkan. Model ini tampaknya hanya diperuntukan bagi guru-guru di sekolah, mereka cukup dengan merumuskan tujuan pembelajaran khusus dengan mengacu pada tujuan pembelajaran umum yang telah disiapkan dalam sistem.
Komponen-komponen tersebut menjadi dan merupakan acuan dalam menetapkan langkah-langkah pengembangan, sebagai berikut :
1. Merumuskan tujuan (formulate objectives);
2. Mengembangkan tes (develop test);
3. Menganalisis kegiatan belajar (analyzing learning task);
4. Mendesain sistem instruksional (design system);
5. Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil (implement and test output);
6. Mengadakan perbaikan (change to improve);

Sumber

http://goes-awal.blogspot.com/2010/10/model-pembelajaran-bela-h-banathy.html. Diakses tanggal 7 September 2011.

Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalitas Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Pengembangan Media Pembelajaran Reseptif


I. Pengantar

Salah satu faktor penentu keberhasilan tujuan pembelajaran adalah pengembangan media pembelajaran. Seorang guru dituntut untuk mengembangkan media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Selain tujuan pembelajaran dapat tercapai, proses pembelajaran juga akan menarik dengan bantuan media pembelajaran yang tepat sehingga siswa lebih mudah memahami dan menerima materi.
Kedudukan media pengajaran ada dalam komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya untuk mempertinggi proses interaksi guru-siswa, dan interaksi siswa dengan lingkungn belajar. Oleh sebab itu fungsi utama dari media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar, yakni menunjuang penggunaan metode mengajar yang dipergunakan guru (Nana Sudjaja dan Ahamd Rivai, 1990:7).
Pada makalah ini akan membahas pengembangan media pembelajaran reseptif. Pembelajaran reseptif mencakup keterampilan membaca dan keterampilan menyimak. Berikut ini akan diuraikan secara mendalam mengenai pengembangan pembelajaran reseptif.

II. Pembahasan

1. Pengertian Media Pembelajaran
• Menurut Assocition for Educational Communications and Techonogy (1977 dalam Sri Anita, 2010:4) media sebagai segala bentuk yang dipergunakan untuk menyalurkan informasi.
• Menurut Gerlach & Ely (1980 dalam Sri Anita, 2010:4) media adalah grafik, fotografi, elektronik, dan menjelaskan informasi lisan atau visual.
• Menurut Rossi dan Breidle (1966 dalam Wina Sanjaya, 2009:204) media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan, seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dsb.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan oleh guru sebagai perantara untuk menyampaikan materi kepada siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

2. Pengembangan Media Pembelajaran Menyimak
Menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif yang wajib diajarkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pengertian menyimak menurut Tarigan (1994:28) adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh infomasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa tulisan. Berdasarkan pengertian menyimak tersebut, maka guru dituntut untuk mengembangkan media menyimak yang sesuai dengan SK, KD, karakteristik siswa, keadaan lingkungan, fasilitas, dan waktu yang tersedia, dsb.
Karakteristik pembelajaran mendengarkan adalah pembelajaran berbahasa lisan yang bersifat pasif atau menerima informasi. Media yang dapat digunakan untuk itu adalah alat ucap guru atau siswa atau rekaman yang dibuat oleh guruuntuk kepentingan pembelajaran tersebut. (Depdiknas, 2006:24)
Dalam menentukan media pembelajaran mendengarkan hendaknya selalu dikaitkan dengan kompetensi dasar. Media yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran mendengarkan dapat berupa pembacaan langsung oleh guru atau siswa atau melalui media baik media cetak atau media elektronik (Depdiknas,2006).
Menurut Sumadi (2001: 35 – 36) prinsip dalam menentukan media dalam bahasa adalah sebagai berikut: (a) Fungsional, artinya cocok dengan tujuan pembelajaran yang dilakukan dan benar-benar menunjang ketercapaian tersebut, (b) tersedia, artinya media yang akan digunakan ada dan sudah disiapkan, (c) murah, artinya media yang digunakan tidak harus mahal tetapi terjangkau dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, (d) menarik, artinya media yang digunakan adalah media menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Setidaknya ada beberapa kriteria untuk menentukan media yang menarik bagi siswa, yaitu: sesuai dengan kebutuhan siswa, sesuai dengan dunia siswa, baru, dan menantang.
Pengembangan media secara garis besar meliputi kegiatan perencanaan, produksi, dan evaluasi (Nana Sudjaja, 1990:129). Perencanaan meliputi kegiatan-kegiatan menentukan tujuan, menganalisis keadaan sasaran, penentuan materi, format yang akan dipergunakan. Produksi meliputi kegiatan membuat media pembelajaran (misalnya media audio: membuat rekaman, media audiovisual: membuat rekaman video). Evaluasi dimaksudkan sebagai kegiatan untuk menilai program, apakah program tersebut bisa dipakai atau perlu direvisi (disempurnakan) lagi.

Berikut contoh pengembangan media resepsif (menyimak):
1. Pembelajaran bahasa Indonesia untuk SMA kelas X semester 1
Standar Kompetensi : Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung
Kompetensi Dasar :Menanggapi siaran atau informasi dari media elektronik (berita dan nonberita)
Media yang digunakan misalnya audiovisual dengan memutarkan video yang berjudul “Ekosistem Maluku Utara” dengan durasi 9 menit. Siswa diminta menyimak video tersebut, kemudian menanggapi infomasi yang telah didengar.
• Tahap perencanaan, pada tahap ini guru menentukan tujuan pembelajaran yaitu siswa mampu memberikan tanggapan dari siaran atau informasi yang telah didengar. Selanjutnya, menganalisis keadaan sasaran yaitu menganalisis bagaimana persiapan siswa. Lalu, guru menentukan materi yang berupa isi berita, teknik-teknik memberi tanggapan yang tepat.
• Tahap produksi, pada tahap ini guru mencari video atau membuat video mengenai tema tertentu yang sesuai dengan SK dan KD.
• Tahap evaluasi, pada tahap ini guru menilai apakah media yang dipilih dapat digunakan dalam proses pembelajaran baik dari segi: audio, isi, dan visual.

3. Pengembangan Media Pembelajaran Membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis (Tarigan, 1983:7)
Pada dasarnya media pembelajaran merupakan alat bantu untuk mempermudah pemahaman siswa mengenai materi yang akan dipelajari. Pada pengembangan media pembelajaran membaca ada beberapa media yang digunakan dalam pembelajaran dan harus sesuai dengan SK dan KD. Dalam media pembelajaran terdapat prinsip-prinsip pemiilihan media yang telah dijelaskan pada pengembangan media menyimak.
Mengingat banyaknya media pembelajaran, maka guru perlu mengetahui jenis- jenis media sehingga bisa menentukan media yang tepat digunakan sesuaidengan materi. Jenis media menurut Sanjaya (2006:170 dalam Depdiknas), dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Adapun media yang sesuai dengan pembelajaran membaca adalah sebagai berikut
1. Media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara. Jenis media yang tergolong ke dalam media visual adalah film,slide, foto, transparansi, lukisan, gambar, dan berbagai bentuk bahan yangdicetak seperti media grafis dan lain sebagainya.Contoh: Membaca tabel, grafik, denah, bagan, dan lain-lain.
2. Media audiovisual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat, misalnya rekaman video,berbagai ukuran film, slide suara, dan lain sebagainya. Contoh: Membaca cepat teks dalam film asing.
3. Media cetak, seperti: buku, modul, bahan ajar mandiri, buku bacaan sastra,majalah, surat kabar, dan lain sebagainya.Contoh: Membaca pemahaman wacana sastra dan membaca kritis wacana nonsastra.
4. Media berbasis lingkungan, yaitu media yang berada di lingkungan sekitar siswa, contohnya: lingkungan sekolah, perpustakaan, pasar tradisional ,tempat wisata, dan lain sebagainya.
Contoh: Menggunakan berbagai barang bekas, misalnya bungkus mie ,bungkus obat, daftar harga dari supermarket, dan lain-lain yang dimanfaatkan untuk kegiatan membaca dan menemukan informasi penting dari berbagai barang bekas tersebut.
5. Media berbasis TIK, digunakan dengan pertimbangan perkembangan dunia global yang begitu cepat menembus ruang dan waktu, menyebabkan siswa bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Media pembelajaran berbasis TIK ini perlu dikembangkan oleh guru dalam rangka menciptakan pembelajaranyang menarik dan menyenangkan serta menantang siswa untuk menguasai TIK sehingga keefektifan pembelajaran itu tercapai.
Contoh: Membaca cepat untuk mengetahui KEM (Kecepatan Efektif Membaca) dengan memanfaatkan multimedia misalnya laboratorium komputer yang sudah dilengkapi perangkat lunak bahan kegiatan membaca cepat.

Contoh pengembangan media pembelajaran membaca
• Standar Kompetensi: Memahami wacana sastra puisi dan cerpen
• Kompetensi Dasar: Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen
Media yang dapat digunakan ialah media teks bacaan yang berupa cerpen. Teks bacaan cerpen dapat diperoleh melalui buku-buku, majalah, internet, dsb. Guru menyajikan teks bacaan yang berupa cerpen sesuai SK, KD, dan karakteristik siswa.

III. Kesimpulan
Dari pembahasan pengembangan media pembelajaran keterampilan reseptif di atas dapat disimpulikan bahwa pengembangan media adalah segala sesuatu yang digunakan oleh guru sebagai perantara untuk menyampaikan materi kepada siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Prinsip pemilihan media keterampilan reseptif pada dasarnya sama yakni sesuai dengan SK, KD, karakteristik siswa, keadaan lingkungan, fasilitas, dan waktu yang tersedia, dsb.
Prinsip dalam menentukan media dalam bahasa menurut Sumadi adalah sebagai berikut fungsional, tersedia, murah, dan menarik. Media yang sesuai dengan pembelajaran membaca adalah media cetak (majalah, buku, koran), visua (gambar, grafik, bagan), audiovisual (rekaman video,film), berbasis lingkungan (lingkungan sekolah, perpustakaan, tempat wisata), dan berbasis TIK (multimedia). Media yang sesuai untuk pembelajaran menyimak seperti audio (rekaman suara), audiovisual (televisi, video,film).

IV. Daftar Pustaka

Anitah, Sri. 2010. Media Pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. 2009. PEMBELAJARAN MEMBACA. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bahasa.

Departemen Pendidikan Nasional. 2009. PEMBELAJARAN MENDENGARKAN. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bahasa.
Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 1990. Media Pengajaran. Bandung:C.V Sinar Baru Bandung