Rabu, 29 September 2010

AGAMA DAN KEKERASAN

Persoalan Faktual:
- kekerasan merebak dan agama terkait dengannya entah sebagai lelgitimasi/motivasi etnah sebagai kekuatan penghalau kekerasan.
- Agama dapat menciptakan fundamentalisme, fanatisme, perang suci, bunuh diri, kemartiran. Lantas, apakah agama dapat merupakan sumber kekerasan?
- Bila mencermati wilayah-wilayah konflik kekerasan, nampkanya agama bukan menjadi penyebab kekerasan atau sumber kekerasan. Mungkin agama terperangkap dalam kekerasan yang tidak diciptakannya. Agama terperangkap karena kekerasan melibatkan warga pemeluknya dan karena agama peduli pada persoalan yang menyebabkan adanya kekerasan/konflik.
- Keterlibatan agama lebih pada level teologis. (memberi motivasi atau legitimasi dan ini berdapak negatif karena akan meningkatkan eskalasi kekerasan: kedua meningkatkan kekuatan melawan kekerasan serta mengenyahkan kekerasan atau menebus kekerasan menjadi perdamaian melalui gerakan tanpa kekerasan).

Mencermati akar kekerasan:

1. Kekeran lahir dari ketidakadilan dan bukan dari agama:
- konflik di banyak wilayah memperlihatkan bahwa suatu kekerasan umumnya merupakan reaksi terhadap ketidakadilan. Ada ketidakadilan yang dilakukan suatu rejim tiran, juga ada ketidakadilan yang sestemik dan struktural.
- Yang tidak banyak disadari orang adalah bahwa ketidakadilan itu sendiri merupakan suatu kekerasan, bukan hanya suatu kejahatan moral. Ketidakadilan bahkan merupakan keadilan yang paling nyata baik secara kuantitatif maupun kualitatif: jangkauannya amat massif dan dampaknya mengena pada totalitas manusia).
- Ketidakadilan yang merupakan dasar atau pokok kekerasan melahirkan kekerasan lain sebagai bentuk perlawanan terhadapnya (kekerasan revolusioner bersenjata atau pemberontakan, terorisme, dll).
- Kekerasan yang disebabkan ketidakadilan memang amat tersembunyi sebagai suatu kekerasan karena tidak menonjol seperti kekerasan serangan terorisme 11/09/2001 atau bom Bali, dll. Kekerasan ketidakdailan paling langgeng bertahan dan amat sulit diberantas karena akarnya amat mendalam. Holocaust menghasilkan pengadilan di Nuremberg, tetapi penjarahan kekayaan sumber alam dunia ketiga serta eksploitasi manusia pekerja dan buruh migran tidak menghasilkan suatu pengadilan.
- Kekerasan ketidakadilan menampilkan diri antara lain melalui kemiskinan yang merenggut nyawa jutaan manusia setiap tahun. Kemiskinan pada masa kini bergerak dari tidak adil menuju tidak manusiawi.

2. Ketidakadilan ditopang negara-negara kaya dan kekuatan kapitalis
- kaum kapitalis dari negara-negara kaya biasanya menyokong kekuasaan represif
dari rejim-rejim penindas (bantuan ekonomi dan senjata)
- pelaku-pelaku kekerasan itu bukanlah ornag-orang beragama yang fanatik, tetapi
orang-orang yang punya kepentingan ekonomis dan berkolaborasi dengan
kelompok kapitalis serta penguasa negara-negara kapitalis.
- jadi agama sama sekali tidak berhubungan dengan hal-hal spiritual atau agama.
- Ketidakadilan yang merupakan induk kekerasan itu, lantas melahirkan kekerasan sebagai perlawanan terhadapnya, sehingga kekerasan dipilih sebagai jalan revolusioner untuk memerangi ketidakadilan. Paus Paulus VI menyatakan bahwa dalam cengkeraman kekuasaan rejim yang menindas terus menerus maka dapat dimengerti bahwa orang tidak menemukan cara lain untuk melawannya selain melalui cara kekerasan.

3. Hal-hal yang harus diingat:
- dunia kita penuh dengan kekerasan. Sejak abad silam dunia kita penuhi peperangan. Dua perang dunia dan ribuan perang kecil.
- Kapitalisme menghasilkan dua jenis kekerasan: kemiskinan dan kekerasan (represi, penindasan, konflik bersenjata, dllsb).
- Perlunya mengenangkan, karena umumnya orang kecenderung melupakan atau ada upaya sistematis untuk melupakan kekerasan dan penderitaan (memoria passionis).
- Merefleksikan peranan agama: apakah menyebabkan kekerasan karena fundamentalisme yang dapat lahir dari agama: ataukah agama membenarkan atau melegitimasi cara kekerasan: perlu juga meneliti bahwa agama dapat menyebabkan fundamentalisme ekonomi dan politik.
- Agar ke depan agama tidak menjadi sumber energi suatu agresivitas, tetapi harus tetap mempertahankan baik spirit perdamaiannya maupun suara profetisnya serta selalu mengingatkan manusia akan kejahatan dosa. Agama tentu tidak dapat menjadi asal atau pemicu kekerasan, tetapi dari lain pihak agama tidak boleh diam di hadapan persoalan yang dapat melahirkan kekerasan.

Agama: membebaskan tetapi rentan terhadap manipulasi

1. agama: topeng ketidakadilan
- Ketidakadilan struktural sama sekali tidak bermotif religius, tetapi mencari dukungan religius dalam pelanggengannya, baik dalam agama-agama tradisional maupun dalam sekte-sekte baru.
- Fundamentalisme tidak harus selalu dicari akarnya dalam agama, tetapi harus juga dicari dalam ekonomi. Demi suatu keuntungan ekonomi orang membiarkan atau bahkan merekayasa kekerasan.
- Agama digunakan untuk membenarkan kapitalisme, bahkan sampai pada tingkat represi, terorisme dan perang. Kapitalisme adalah pembela agama melawan musuh agama.
- Fenomena sekte-sekte baru cukup menarik untuk dicermati: mereka melancarkan aksi besar-besaran dengan tekanan pada penghayatan agama yang individualis, ritual dan spiritual. Sekte sebagai suatu oase spiritual dan upaya karitatif. Sekte-sekte itu tidak membahayakan rejim penindas entah lokal entah global, karena tidak akan menyuarakan ketidakadilan dan menjauhi konflik. Sehingga disenangi oleh rejim-rejim kapitalis.

2. agama yang membebaskan:
- Fenomena berkembang suburnya teologi pembebasan adalah indikasi bahwa dari refleksi iman (agama) orang menemukan kekuatan dan motivasi untuk melawan penindasan dan ketidakadilan. Teologi pembebasan membuka kemungkinan bagi orang Kristen untuk berjuang melawan ketidakadilan dan penindasan.
- Agama yang membebaskan berciri: anti kekerasan, setia pada wahyu alkitab dan realitas sejarah. Anti kekerasan tidak sama dengan anti konflik; setia pada revelasi biblis dan realitas historis menyebabkan tuturan atau doktrin agama akan menjadi anti-tese terhadap penindasan, ketidakadilan dan kekeran. Agama yang membebaskan adalah agama yang peduli pada martabat manusia serta perjuangan untuk mempertahankan martabat manusia itu.
- Dalam refleksi teologi pembebasan antitese-antitese itu akan terumus seperti ini:
o Allah kehidupan vs budaya atau berhala kematian
o Kehendak Allah vs rancangan ilah-ilah zaman ini
o Kerajaan Allah vs kerajaan manusia
o Allah vs mammon
- Inilah konflik-knflik yang ditawarkan oleh agama yang membebaskan.
- Bahaya yang nyata ada sekarang ini adalah bahwa orang menjauhkan konflik-konflik ini dengan mengupayakan penjinakan profetisme Injil atau ajaran agama. Agama rentan terhadap manipulasi seperti itu atas nama ‘motivasi rohani’.
- Pembacaan iman kristiani dalam teologi pembebasan membawa kepada perjuangan untuk membela kepentingan kaum tertindas dan miskin, bukan untuk membela agama.

Peranan agama melawan kekerasan

1. melawan ideal kekayaan
- kekerasan, seperti sudah dikatakan di atas bersumber pada ketidakadilan.
- Perjuangan melawan ketidakdilah bukanlah perjuangan dengan senjata atau kekerasan, tetapi perlawanan ideologis, profetis, kritis dan utopis.
- Di balik ketidakadilan sebenarnya bukan hanya ada kejahatan moral, tetapi suatu berhala terhadap harta. Jadi suatu realitas teologis: menolak Allah dan menyembah harta. Inilah yang merupakan musuh utama.
- Hal ini amat penting karena sudah lama refleksi iman tidak lagi menyoroti persoalan idolatria (penyembahan berhala). Berhala bukanlah realitas –religius- masa lalu, tetapi realitas historis masa kini dalam rupa:
o Pemutlakan harta dan kekayaan pribadi
o Yang sudah menjadi justifikasi dan nilai tertinggi yang dicari
o Berhala ini dilayani oleh struktur-struktur seperti: kekuatan militer, politik, buaya, hukum, intelektual, agama, dllsb
o Menjanjikan kebahagiaan bagi yang memujanya dan menyebabkan penindasan bagi yang tak menyembahnya. Berhala membutuhkan korban.
- Nah, untuk melawan kekerasan yang bersumber pada ketidakadilan, maka yang harus dilawan adalah berhala-berhala tadi.
- Perjuangan bukanlah perjuangan berdarah.
- Yang jelas ada hubungan erat antara berhala-berhala dengan korban-korban yang berjatuhan: emas mendatangkan korban; menyebabkan korban: jutaan orang menjadi miskin dan tertindas, alam lingkungan hancur lebur, dllsb.

2. meminimalisir kekerasan dan mengoptimalkan keuntungan
- Untuk bertahan hidup berhala membutuhkan korban, yakni kekerasan dan juga jawaban kekerasan atas ketidakadilan yang disebabkannya..
- Nah, kekerasan itulah yang harus di’manusiawi’kan, bagaimana caranya?
o Memberikan reaksi atau jawaban yang terukur: menggunakan kekerasan harus sungguh rasional dan hanya dalam kasus-kasus ekstrem. Melawan dehumanisasi sebagai akibat samping kekerasan dengan menolak mistifikasi kekerasan. Kekerasan selalu menghasilkan kejahatan yang lain secara langsung, aik fisik maupun moral.
o Memberikan jawaban dengan kekerasan dengan efek positif langsung:
 Para pejuang bersenjata untuk melawan rezim yang tiran dan menindas, umumnya berjuang demi cinta kepada bangsanya atau rakyat yang tertindas.
 Kekerasan dapat menjadi sarana membongker topeng kebohongan rezim dan menarik orang kepada kebenaran.
 Kekerasan dapat merupakan suatu kebutuhan untuk terus menerus berjuang melawan ketidakadilan
 Memanusiakan kekerasan bukanlah hal yang ideal tetapi realistis, tetapai didorong oleh sesuatu yang ideal yakni perjuangan melawan dan meminimalisir kejahatan serta hasil samping kejahatan, serta mengoptimalkan keuntungan dan efek negatif.
o Menebus kekerasan dengan kemartiran:
 Membalikkan dinamika kekerasan: melawan kekerasan dengan tanpa kekerasan. Dengan itu orang kristen, dapat memberikan kesaksian spesifik mereka bahwa kehidupan dapat mengatasi kemamtian dan kasih dapat mengalahkan kebencian. Pendekatan seperti ini akan selalu dapat diterima dan efektif asal orang kristen rela menjadi martir.
 Menebus kekerasan dengan kemartiran berarti:
• Selalu siap bertarung melawan kektidakadilan dan membela yang tertindas/miskin melawan pada penindas.
• Cara yang digunakan mesti menegaskan supremasi kasih di atas kebencian, kehidupan di atas kematian.
• Berani mengambil resiko bahkan mengorbankan kehidupan sendiri (martir keadilan).
 Menebus kekerasan dengan kemartiran berarti selalu berjuang demi menghasilkan kebenaran, kasih dan keadilan dalam masyarakat. Inilah gerakan yang menebus kekerasan: berjuang dan berkorban bagi yang tertindas sampai tuntas.

Related Post:

Tidak ada komentar: