Jumat, 18 November 2011

Prinsip-Prinsip Pengajaran Bahasa Dan Sastra

Judul Buku : Prinsip-Prinsip Pengajaran Bahasa Dan Sastra
Penulis : Prof. Dr. Sartinah Hardjono
Penerbit : proyek pengembangan lembaga pendidikan tenaga kependidikan
Tahun Terbit : 1988

Ringkasan :
Dikdaktik pengajaran bahasa dilihat dari sudut bidang penelitiannya merupakan sebagian dari disiplin ilmu pendidikan karena meneliti tugas dan kegiatan dalam bidang pendidikan dan pengajaran serta kegiatan-kegiatan proses belajar mengajar dalam menanamkan dan mengembangkan kemampuan berbahasa ibu maupun bahsa asing. Pengajaran berbahasa berkaitan dengan ilmu pendidikan, ilmu linguistic dan ilmu psikologi. Kaitan dengan ilmu-ilmu ini akan membuat pengajaran bahasa akan semakin jelas fungsinya. Secara khusus prinsip didaktik pengajaran bahasa sebagai pengarah dalam mempelajari maupun dalam mengajar suatu bahasa. Dalam didaktik pengajaran kebudayaan dan sastra ada beberapa aspek yang perlu kita pelajari yaitu: letak geografis negara yang bersangkutan, keadaan negara, dan kultur masyarakat seperti cara hidup dan struktur masyarakatnya.Sebagaimana tujuan pengajaran selalu menghendaki perubahan. Sehingga dengan kata lain perubahan ini merupakan proses yang terjadi karena pengaruh pendidikan dan pengajaran.
Didaktik dan metode pengajaran bahasa asing perlu ditelaah karena ada kecenderungan untuk memasukkan penelitian-penelitian bidang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pengajaran bahasa asing ke dalam disiplin ilmu tersendiri. Dalam didaktik pengajaran bahasa asing merupakan teori dan praktek mengajar semua bahasa asing. Dalam metodologi pengajaran bahasa meneliti masalah-masalah pengajaran yang dilihat dari segi khusus suatu bahasa. Namun baik didaktik maupun metodologi pengajaran sangat dipengaruhi oleh ilmu bahasa dan cabang-cabangnya(ilmu pendidikan dan psikologi). Kedua hal ini berguna untuk menguji kebenaran suatu teori karena prinsip atau peraturan yang ditemukan tidak hanya dicoba pada saru bahasa asing saja.
Pada bab tiga menjelaskan mengenai hubungan guru-murid dalam pengajaran bahasa. Pegajaran bahasa ibu maupun bahasa asing hendaknya jangan hanya ditujukan pada penguasaan bahasa yang diajarkan, melainkan harus merupakan proses kompleks dalam rangka mengembangkan kepribadian anak didik yang merupakan satu kesatuan antara factor-faktor daya pengembangan intelek maupun moral yang didasarkan atas ideologi pandangan hidup bangsa yang bersangkutan. Namun pada kenyataannya pengajaran dewasa ini yang sangat dominan dalam proses belajar mengajar adalah keterangan-keterangan yang diberikan guru mengenai materi yang disajikan. Ada kecenderungan dimana posisi guru lebih dominan sehingga terlihat bahwa tidak ada hubungan antara guru dan murid. Dalam mengorganisir pengajaran, guru harus berusaha menciptakan hubungan guru-murid yang positif dimana terjalin rasa saling menghormati, dan pengertian sehingga tercipta suasana belajar yang menguntungkan. Dengan demikian tidak hanya tujuan pengajaran bahasa yang tercapai, melainkan juga tujuan dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa.
Dalam mendidik agar dapat mengembangkan pengetahuannya maka siswa sebaiknya dibimbing oleh guru untuk memperluas kecakapan berbahasanya termauk berbahasa asing. Jika memepelajari bahasa asing tidak hanya memeroleh alat baru untuk mengungkapkan buah pikiran, melainkan terbuka pula sumber untuk memelajari tentang negara itu sendiri dan kebudayaannya. Bersamaan dengan memelajari bahasa asing, secara tidak sadar terjalin pula hubungan dengan kebudayaannya. Keuntungan dalam belajar bahasa asing ialah bahwa kita juga turut cara hidup bangsa yang bersangkutan, cara berpikir, dan segi-segi yang menyangkut kebudayaannya. Lebih dari itu maka akan terjalin kerjasama antar bangsa di dunia modern.
Lebih lanjut, siswa akan berlatih untuk mengembangkan kemampuan berbicara bebas dalam bahasa asing. Sehingga jelaslah tugas pengajaran bahasa asing yang berorientasi pada kemampuan komunikatif bahasa asing. Para ahli metodik telah mengajukan tiga tahap menuju ke arah kemampuan berbicara secara bebas; berbicara tanpa variasi, berbicara bervariasi terpimpin, dan berbicara bebas.
1. Tahap berbicara tanpa variasi. Latihan ini masih terikat pada teks bacaan sehingga terstimulus yang diberikan guru.
2. Tahap berbicara bervariasi terpimpin. Pada tahap ini siswa masih diperbolehkan mempersiapkan diri. Di hal ini siswa dituntut untuk menirukan isi teks secara monologis ataupu dialogis.
3. Tahap berbicara bebas. Jenis-jenis bantuan verbal maupun visual harus diredusir sampai seminimal mungkin.
Dalam pengajaran bahasa asing, membaca mempunyai peranan penting karena membaca merupakan suatu aktivitas komunikatif, di mana ada hubungan timbal balik antara pembaca dengan isi teks tersebut. Membaca buku teks bahasa asing merupakan usaha menerjemahkan kata demi kata tanpa ada komunikasi antara pembaca dan apa yang dibaca. Ini memungkinkan siswa untuk membuat ketiadaan strategi membaca. Ini disebabkan karena komponen-komponen kompetensi membaca teks dalam bahasa ibu tidak dikembangkan dan tidak diperhatikan oleh guru. Maka perlu adanya semacam latihan pengembangan kompetensi membaca. Sehingga siswa dapat belajar dengan mandiri melalui bacaan yang kompleks hanya didorong oleh minatnya sendiri.
Minat berhubungan erat denga motivasi. Motivasi memiliki 2 jenis: motivasi intrinsik yang lebih berpusat pada pengendalian diri yang dapat mewujudkan cita, dan motivasi ekstrinsik yang memerlukan faktor dari luar diri seperti pujian dan pengajaran yang menarik. Dari sudut pandang pengajaran, maka gurulah yang berperan aktif untuk menghidupkan situasi belaja. Materi pengajaran yang perlu disiapkan guru hendaknya sesuai dengan kebutuhan siswa, minat yang sesuai dengan usia dan perkembangan psikis siswa, tujuan pendidikan dan pengajaran, dan bersifat komunikatif. Secara tidak langsung hal itu akan menumbuhkan minat dan motivasi siswa dalam perkembagan belajarnya. Guru juga berperan untuk membangkitkan perasaan dan sikap positif terhadap pelajaran, karena ini merupakan penggerak untuk belajar intensif. Motivasi merupakan faktor yang mampu meningkatkan efektifitas belajar, maka dalam proses belajar mengajar harus diperhitungkan.
Perasaan kurang puas mengenai hasil pengajaran bahasa asing menyebabkan para ahli metodik masih terus berusaha menemukan satu sistem yang dapat memenuhi persyaratan untuk memeroleh kemampuan berbahasa asing secara lisan maupun tertulis yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang memelajarinya. Masalah ini sukar diatasi karena untuk mencapai hasil yang baik dalam pengajaran bahasa asing banyak faktor yang ikut menentukan. Salah satu masalah dalam pengajaran bahasa asing adalah latihan “drill”. Latihan semacam ini tidak dapat mengembangkan daya pikir maupun daya tangkap siswa.
Metode pengajaran yang berorientasi kepada segi praktis dan kemampuan komunikatif. Dasar yang dipakai adalah daya pikir siswa. Mengaktifkan daya pikir dalam hubungan dengan pengajaran bahasa berarti menggairahkan, membangkitkan kemampuan serta kreatifitas siswa untuk menyusun kombinasi dan variasi baru sesuai dengan situasi konkrit berdasar materi yang dipelajari. Maka diharapkan gairah belajar siswa semakin meningkat dan minat untuk mengembangkan pengetahuan akan bertambah.
Metode pengembangan kemampuan menulis dalam pengajaran bahasa. Kemampuan menulis yang dapat dikembangkan ialah:
• kemampuan reproduktif: setiap bahasa memiliki sistem penulisan yang berbeda dengan bahasa lain. Maka cara menulis ini harus mendapat perhatian karena tingkat ini sangat menentukan pada tingkat berikutnya.
• reseptif-produktif: latihan membaca dan menyimak banyak membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan ini, karena disini siswa dilatih menangkap isi teks yang dibaca sendiri, diperdengarkan melalui kaset rekaman dan menceritakan melalui kata-kata sendiri.
• Produktif: hal ini biasanya dilakukan seorang guru dengan member tema kemudian mempersilahkan siswanya untuk mengarang karangan sesuai tema tersebut. Cara ini hendaknya dilakukan dengan cara sistematis, bertahap melalui kemampuan produktif, terpimpin dan terkontrol.
Jenis, fungsi, dan penggunaan media dalam pengajaran bahasa asing. Jenis media yaitu media yang member informasi, media yang memerlukan alat teknik dan tidak memerluka alat teknik, media spesifik dantidak spesifik, media pengajaran yang integratif, dan jumlah analisator yang aktif pada waktu menangkap materi pengajaran. Fungsi media dalam pengajaran bahasa asing yaitu sebagai informasi, pengemban informasi, alat untuk mengatasi perselisihan faham, pengarah pengajaran, pemberi stimulus, dan sebagai alat yang mengintensifkan pelajaran dan menyingkat waktu. Nah, dalam pengajaran bahasa asing, media digunakan untuk membantu menyampaikan pengetahuan leksik, membantu mengembangkan bahasa lisan, dan membantu menanamkan kebudayaan yang diintergrasikan dalam pengajarn bahasa.
Prinsip metodik dalam mengembangkan kemampuan listening comprehension dalam pengajaran bahasa asing. listening comprehension ini merupakan proses analitik-sintetik yang hasilnya bergantung dari faktor pendengar, kondisi dan situasi, sifat informasi. Dalam hal ini ada tiga fase penangkapan yang didengar berdasarkan psikologi belajar yaitu, fase menyadari, fase mengidentifikasi, dan fase menyimpang dalam ingatan dan mengingat kembali. Dalam proses listening comprehension perlu adanya pengembangan untuk semakin mampu dalam pengayaan materi. Tahap-tahap tersebut yaitu, tahap oerientasi, tahap mendengarkan terpimpin, tahap mendengarkan tidak terpimpin, dan tahap transfer. Latihan- latihan ini harus menuntun siswa ke arah kemampuan produktif, di mana siswa mampu menggunakan materi yang telah dipelajari dalam situasi lain.

Related Post:

Tidak ada komentar: