Jumat, 18 November 2011

PENDEKATAN, METODE, TEKNIK, DAN PROSEDUR DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

I. PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN
A. Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatanpembelajarandapat diartikan sebagaisudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.Pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang menengahi hakikat pengajaran dan pembelajaran bahasa.Pendekatan itu bersifat aksiomatik(dapat diterima sebagai kebenaran, tanpa pembuktian), Tarigan (1989:11).
Pendekatan adalah seperangkat asumsi, persepsi, keyakinan dan teori tentang bahasa dan pembelajajan yang menjiwai keseluruhan proses belajar dan berbahasa, Nunan (1990:12).Istilahpendekatandalampembelajaranbahasamengacupadateori-teoritentanghakekatbahasadanpembelajaranbahasa yang berfungsisebagaisumberlandasanatauprinsippengajaranbahasa.
Pendekatan adalah seperangkat asumsi yang saling berhubungan yang menyangkut sifat bahasa, pengajaran bahasa dan belajar bahasa, Anthony (1963). Pendekatanmerupakandasarteoretisuntuksuatumetode.Asumsitentangbahasabermacam-macam, antara lain asumsi yang menganggapbahasasebagaikebiasaan; ada pula yang menganggapbahasasebagaisuatu sistem komunikasi yang padadasarnyadilisankan; ada pula yang menganggapbahasasebagaiseperangkatkaidah, norma, danaturan.

B. Macam-macam Pendekatan
1. Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa bermula dari suatu teori yang berlandaskan “bahasa sebagai komunikasi”, Tarigan (1989: 280).Pada bagian terdahulu sudah dikemukakan bahwa pandangan tentang bahasa dan pembelajaran bahasa selalu mengalami perubahan, sejalan dengan perkembangan pola pikir masyarakat.Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia, akhir-akhir ini sedang digalakkan penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu.
Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa.Tampak bahwa bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah tetapi lebih luas lagi, yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi.Ini berarti, bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya, yaitu fungsi komunikatif. Menurut Littlewood (1981) pemikiran pendekatan komunikatif didasarkan pada pemikiran bahwa:
a. Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang lebih luas tentang bahasa. Hal ini terutama menyebabkan orang melihat bahwa bahasa tidak terbatas pada tata bahasa dan kosakata, tetapi juga pada fungsi komunikatif bahasa.
b. Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam pembelajaran bahasa. Hal itu menimbulkan kesadaran bahwa mengajarkan bahasa tidak cukup dengan memberikan kepada siswa bagaimana bentuk-bentuk bahasa asing, tetapi siswa harus mampu mengembangkan cara-cara menerapkan bentuk-bentuk itu sesuai dengan fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi dalam situasi dan waktu yang tepat.
Pendekatan komunikatifmerupakanpendekatan yang dilandasiolehpemikiranbahwakemampuanmenggunakanbahasadalamberkomunikasimerupakantujuan yang harusdicapaidalampembelajaranbahasa.

2. Pendekatan Kognitif
Istilah “pendekatan kognitif” atau “cognitive approaches”, biasa juga disebut dengan “cognitive cole” (Krashen 1986: 132; Steinberg 1986: 192), “kognitif theory” (Stern 1987: 469).Teori atau metode ini telah diinterpretasikan oleh beberapa pakar sebagai “teori terjemahan tata bahasa yang mutakhir, yang telah dimodifikasi”, (Caroll 1966:102).
Kognitif merujuk kepada kegiatan mental seperti berfikir, menganalisis, membentuk konsep, menyelesaikanmasalahdansebagainya.pendekatankognitifmerupakanpendekatan yang memberi perhatian khusus kepada proses pemikiran individu seperti kemahiran berfikir secara kritis dan kreatif, kemahiran belajar dan motivasi yang dipelopori oleh ahli psikologi Gestalt, Pieget, Vygotsky, Gagne, Bruner danAusubel.

3. Pendekatan Tujuan
Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar mengajar, yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan itu dapat ditentukan metode mana yang akan digunakan dan teknik pengajaran yang bagaimana yang diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai. Jadi, proses belajar mengajar ditentukan oleh tujuan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan itu sendiri.
Pada bagian terdahulu telah disebutkan bahwa kurikulum disusun berdasarkan suatu pendekatan.Seperti kita ketahui, Kurikulum 1975 merupakan kurikulum yang berorientasi pada pendekatan tujuan.Sejalan dengan hal itu, bidang-bidang studi pun orientasinya pada pendekatan tujuan; demikian pula bidang studi Bahasa Indonesia.Oleh karena orientasinya pada tujuan, maka pembelajarannya pun penekanannya pada tercapainya tujuan.Misalnya, untuk pokok bahasan menulis, tujuan pembelajaran yang ditetapkan ialah "Siswa mampu membuat karangan/cerita berdasarkan pengalaman atau informasi dari bacaan”.
Dengan berdasar pada pendekatan tujuan, maka yang penting ialah tercapainya tujuan, yakni siswa memiliki kemampuan mengarang. Adapun mengenai bagaimana proses pembelajarannya, bagaimana metodenya, bagaimana teknik pembelajarannya tidak merupakan masalah penting. Demikian pula kalau yang diajarkan pokok bahasan struktur, dengan tujuan "Siswa memiliki pemahaman mengenai bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia".Tujuan tersebut dapat dicapai melalui pembelajaran morfologi bahasa Indonesia.Penerapan pendekatan tujuan ini sering dikaitkan dengan "cara belajar tuntas". Dengan "cara belajar tuntas", berarti suatu kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil apabila sedikitnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu menguasai minimal 75% dari bahan ajar yang diberikan oleh guru. Penentuan keberhasilan itu didasarkan hasil tes sumatif; jika sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa dapat mengerjakan atau dapat menjawab dengan benar minimal 75% dari soal yang diberikan oleh guru maka pembelajaran dapat dianggap berhasil.
Dari berbagai pengertian dan pendapat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pendekatan tujuanmerupakanpendekatan yang menekankanpadatujuanpembelajaran yang akandicapai.

4. Pendekan Terpadu
Pendekatan pembelajaran terpadu adalah seperangkat asumsi yang berisikan wawasan dan aktifitas berfikir dalam merencanakan pembelajaran dengan memadukan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan sebagai area isi kegiatan belajar mengajar.
Pendekatan Integratif atau terpadu adalah rancangan kebijaksanaan pengajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu, yaitu dengan menyatukan,menghubungkanatau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak ada yang berdiri sendiri atau terpisah-pisah.Pendekatan terpadu terdiri dari dua macam :
a. Integratif Internal yaitu keterkaitan yang terjadi antar bahan pelajaran
itu sendiri, misalnya pada waktu pelajaran bahasa dengan fokus menulis
kita bisa mengaitkan dengan membaca dan mendengarkan juga.
b. Integratif Eksternal yaitu keterkaitan antara bidang studi yang satudengan bidang studi yang lain, misalnya bidang studi bahasa dengan sains dengan tema lingkungan maka kita bisa meminta siswa membuat karangan atau puisi tentang banjir untuk pelajaran bahasanya untuk pelajaran sainsnya kita bisa menghubungkan dengan reboisasi atau bisa juga pencemaran sungai.

5. Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa, yang dilandasi oleh asumsi bahwa bahasa sebagai seperangkat kaidah, norma, dan aturan.
Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa, yang dilandasi oleh asumsi bahwa bahasa sebagai seperangkat kaidah, norma, dan aturan. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa.Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa perlu dititikberatkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang tercakup dalam fonologi, morfologi, dan sintaksis dalam hal ini pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting.Jelas bahwa aspek kognitif bahasa lebih diutamakan.Di samping kelemahan, pendekatan ini juga memiliki kelebihan. Dengan pedekatan struktural, siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya. Misalnya saja, mereka mungkin tidak akan membuat kesalahan seperti di bawah ini. "Bajunya anak itu baru"."Di sekolahan kami mengadakan pertandingan sepak bola"."Anak-anak itu lari-lari di halaman".
Pendekatan struktural merupakansalahsatupendekatandalampembelajaranbahasa, yang dilandasiolehasumsibahwabahasasebagaiseperangkatkaidah, norma, danaturan



II. METODE DALAM PEMBELAJARAN
A. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode didefinisikan sebagai keseluruhan rencana, pengaturan, pemnyajian bahan yang tertata rapi berdasarkan pada suatu pendekatan tertentu.. metode ini bersifat prosedural, Richards (1966:15).Istilah metode berarti perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran bahasa secara teratur. Istilah ini bersifat prosedural dalam arti penerapan suatu metode dalam pembelajaran bahasa dikerjakan dengan melalui langkah-langkah yang teratur dan secara bertahap, dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar.
Metode merupakan rencana keseluruhan bagi penyajian bahan bahasa secara rapid dan tertib, yang tidak ada bagian-bagiannya yang berkontradiksi, dan kesemuanya itu didasarkan pada pendekatan terpilih.Kalau pendekatan bersifat aksiomatik, maka metode bersifat procedural, Tarigan (1989:11).

B. Macam-macam Metode
1. Metode Kooperatif
Metode kooperatti adalah serangkaian aktifitas pembelajaran yang di organisasikan sedemikian rupa sehingga pembelajaran tersebut di fokuskan pada pertukaran informasi tersetruktur antar pembelajar dalam grup yang bersifat sosial dan masing-masing pembelajar beertanggung jawab penuh atas pembelajaran yang mereka jalani
a. Saling ketergantungan
Terjadi apabila pencapaian suatu tujuan individual di hubungkan dengan pencapaian tujuan pembelajaran lain sehingga terjalin kerjasama yang harmonis antar pelajar.
b. Tanggung jawab perseorangan
Merupakan suatu akibat dari prinsip pertama. Pembelajaran harus mempunyai komitmen yang kuat untuk mengerjakan tugas yang di berikan kepadanya karena dia harus mempertanggung jawabkan aktivitasnya sehingga dia tidak mengganggu kinerja tim
c. Tatap muka
Merupakan suatu bentuk keterampilan sosial yang memungkinkan pembelajar untuk berinteraksi dengan masing-masing anggota kelompok untuk mencapai tujuan aktifitas dan tugas berbahasa.
d. Komunikasi antar Anggota.
Komunikasi antar anggota perlu di tingkatkan dengan memberi bekal ketrampilan komunikasi agar mereka bersedia mendengarkan pendapat anggota lain sekaligus dapat menyatakan pendapatnya dengan baik dan komunikatif.
e. Keberagaman Pengelompokan
Pembelajar bekerja dalam kelompok,yang anggotanya sangat beragam baik dalam segi kemampuan, ketertarikan,etnis,maupun jenis kelamin dam status sosial mereka(kagan,1992:8-15;tan,1999;lie,2002:29-36)
Tiga hal penting yang perlu di perhatikan dalam pengelolaan kelas yang menerapkan metode kooperatif, yaitu:
a. Pengelompokan Heterogen
Dilakukan dengan memperhgatikan keanekaragaman gender, latar belakang sosial,kemampuan akademik,dn kecakapan berbahasa.
b. Penumbuhan Semangat dan Motivasi untuk Kerja Sama
Perlu dilakukan agar setiap pembelajar mau memikirkan pembelajar lainnya. dengan semangat ini,pembelajar akan dengan mudah menjalin relasi dengan pembelajar lain.
c. Penataan Ruang Kelas.
Kelas yang ideal adalah kelas yang dapat di setting dengan mudah untuk jalan nya diskusi. Meja-meja di suatu ruang harus dapat di ubah berdasarkan topik atau tema pembelajaran( lie,2002:37-52)

2. Metode SAVI(Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)
Metode SAVI merupakan suatu prosedur pembelajaran yang di dasarkan atas aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh pembelajar dengan melibatkan seluruh indra sehingga seluruh tubuh dn pikiran terlibat dalam proses belajar.
unsur-unsur metode SAVI:
a. Belajar Somatis
Dalam konteks pembelajaran bahasa berarti belajar bahasa dengan memanfaatkan indra peraba dan kinstetik yang melibatkan fisik untuk melakukan suatu aktifitas.
b. Belajar Auditori.
Ditekankan pada aktifitas mendengarkan suara-suara melalui dialog-dialog yang tercipta di kelas baik antar pembelajar maupun pembelajar dengan guru secara langsung atau dari alat-alat radio.
c. Belajar Visual
Menuntut ketersediaan berbagai bentuk atau media yang dapat di amati secara langsung oleh pembelajar untuk kemudian membicarakannya dalam bentuk lisan atau tulis.
d. Belajar Intelektual
dalam konteks ini di maknai sebagai apa yang di lakukan dalam pikiran pembelajar secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut.
3. Metode Permainan atau Games
Merupakan serangkaian prosedur pembelajaran bahasa yang di fasilitasi dengan berbagai permainan untuk mencapai suatu tujuan berbahasa
4. Metode Inkuiri
Merupakan metodepembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan pembelajar untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis,kritis,logis, dan analitis sehingga pembelajar dapat merumuskan sendiri berbagai penemuan atas berbagai persoalan dengan penuh percaya diri.
Tiga sasaran utama yang hendak di capai dalam metode ini,yaitu
a. Keterlibatan pembelajar secara maksimal dalam keseluruhan prpses belajar.
b. Keterarahan kegiatan secara logisils dan sistematis pada kompetensi yang hendak dicapai.
c. Mengembangkan rasa percaya diri pada pembelajar atas proses dan temuan yang mereka jalani dan hasilkan
5. Metode Pembelajaran Berbasis Perpustakaan(PBP)
Merupakan suatu prosedur pembelajaran yang secara maksimal memanfaatkan sumber-sumber kepustakaan untuk pencapaian seperangkat tujuan belajar bahasa. Sumber-sumber kepustakaan dapat berupa buku-buku,majalah,CD,kaset audio,kaset, video,dsb.


III. TEKNIK DALAM PEMBELAJARAN
A. Pengertian TeknikPembelajaran
PendekatanTeknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar yang telah disusun (dalam metode), berdasarkan pendekatan yang dianut. Teknik yang digunakan oleh guru bergantung pada kemampuan guru itu mencari akal atau siasat agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar dan berhasil dengan baik. Dalam menentukan teknik pembelajaran ini, guru perlu mempertimbangkan situasi kelas, lingkungan, kondisi siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi-kondisi yang lain. Dengan demikian, teknik pembelajaran yang digunakan oleh guru dapat bervariasi sekali. Untuk metode yang sama dapat digunakan teknik pembelajaran yang berbeda-beda, bergantung pada berbagai faktor tersebut.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa teknik pembelajaran adalah siasat yang dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk memperoleh hasil yang optimal.Teknik pembelajaran ditentukan berdasarkan metode yang digunakan, dan metode disusun berdasarkan pendekatan yang dianut. Dengan kata lain, pendekatan menjadi dasar penentuan teknik pembelajaran. Dari suatu pendekatan dapat diterapkan teknik pembelajaran yang berbeda-beda pula.
Teknik dimaknai sebagai implementasi praktis dan terperinci sebagai kegiatan yang disarankan dalam pendekatan dan metode.
B. Macam-macam Teknik
1. Teknik dari Pendekatan Komunikatif
Sehubungan dengan pendapat itu, dia mengemukakan beberapa alternatif teknik pembelajaran bahasa. Dalam kegiatan belajar mengajar, kepada siswa diberikan latihan, antara lain seperti di bawah ini.
a. Memberikan informasi secara terbatas
Contoh:
- Mengidentifikasi gambar
Dua orang siswa ditugasi mengadakan percakapan (bertanya jawab) tentang benda-benda yang terdapat di dalam gambar yang disediakan oleh guru.Pertanyaan dapat mengenai warna, jumlah, bentuk, dan sebagainya.
- Menemukan/mencari pasangan yang cocok
Guru memberikan gambar kepada sekelompok siswa yang masing-masing mendapat sebuah gambar yang berbeda. Seorang siswa yang lain (di luar kelompok) diberi duplikat salah satu gambar yang telah dibagikan. Siswa ini harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada teman-temannya yang membawa gambar, dengan tujuan untuk mengetahui identifikasi atau ciri-ciri gambar yang mereka bawa. Dari hasil tanya jawab itu siswa (pembawa duplikat) tersebut harus dapat menemukan siapa di antara teman-temannya itu yang membawa gambar yang cocok dengan duplikat yang dibawanya.
- Menemukan informasi yang ditiadakan
Guru memberikan informasi tetapi ada bagian-bagian yang sengaja ditiadakan. Siswa ditugasi mencari atau menemukan bagian yang tidak ada itu. Kemudian A mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada B, sehingga A dapat mengetahui gambar mana yang tidak ada pada gambar milik B.
b. Memberikan informasi tanpa dibatasi bebas (tak terbatas)
Contoh:
- Mengomunikasikan contoh dan gambar
Siswa A membawa sebuah model bentuk-bentuk yang diatur/disusun ke dalam (menjadi) sebuah contoh. Siswa B juga membawa bentuk-bentuk yang sama. Mereka, A dan B, harus saling memberikan informasi sehingga B dapat mengetahui contoh yang ada pada A dengan setepat-tepatnya.
- Menemukan perbedaan
Siswa A dan B masing-masing mempunyai sebuah gambar yang sama, kecuali beberapa bagian. Para siswa harus mendiskusikan gambar tersebut sehingga menemukan perbedaannya.
- Menyusun kembali bagian-bagian cerita
Sebuah gambar cerita (tanpa dialog) dipotong-potong. Setiap anggota kelompok memegang satu bagian tanpa mengetahui bagian gambar yang dipegang oleh yang lain; kelompok itu harus menentukan urutan aslinya, dan menyusun kembali cerita itu.
c. Mengumpulkan informasi untuk memecahkan masalah
Contoh:
Siswa mempunyai rencana akan mengunjungi sebuah kota yang menarik. B mempunyai daftar/jadwal bus. Mereka harus merencanakan perjalanan yang akan dilakukan yang memungkinkan mereka untuk mengunjungi beberapa tempat (misalnya 5 tempat) dalam satu hari, dan menggunakan waktu sekurang-kurangnya setengah jam untuk tiap tempat. Siswa harus memilih tempat yang paling menarik bagi mereka.
d. Menyusun informasi
Contoh:
Siswa diminta membayangkan bahwa mereka akan mengadakan "camping" (berkemah) gunung selama tiga hari. Tiap anggota hanya boleh membawa barang kira-kira seberat 11 kg. Kelompok-kelompok itu harus menentukan apa saja yang akan mereka bawa, dengan melihat daftar barang yang patut dibawa, yang diberikan oleh guru, dan mempersiapkan pembelaan apabila mereka ditentang oleh kelompok lain. Latihan-latihan tersebut merupakan latihan penggunaan bahasa dalam aktivitas komunikasi yang bersifat fungsional di dalam kelas.Di samping itu, juga terdapat tipe aktivitas komunikatif yang lain, yakni aktivitas interaksi sosial, interaksi di dalam masyarakat atau dalam pergaulan. Dalam hal ini latihan yang diberikan kepada siswa antara lain dapat berupa:
(1) Kelas sebagai konteks sosial
(2) Simulasi dan bermain peran

IV. PROSEDUR DALAM PEMBELAJARAN
Pengertian Prosedur Pendekatan
Prosedurmerupakantahapkegiatanuntukmenyelesaikansuatuaktivitas; metodelangkah demi langkahsecarapastidalammemecahkansuatumasalah (KBBI).Sedangkanpembelajaranadalah proses, cara, perbuatanmenjadikanorangataumakhlukhidupbelajar (KBBI).
Strategipembelajaranadalahsuatupolaumum yang dapatmenggambarkankegiatan guru danpesertadidik di dalampembelajaran.Pengertianstrategidalamhalinimenunjukkankepadakarakteristikabstrakdariserangkaiankegiatanpengajardanpesertadidikdalam proses pembelajransecara actual, tertentudinamakanprosedurpembelajaran
Serangkaiankegiatanpengajardanpesertadidikdalam proses pembelajaransecaraaktual. Tingkatan terakhir dari konseptualisasi dan organisasi di dalam suatu metode disebut prosedur, Tarigan (1989:22).Prosedur ini mencakup teknik-teknik, praktek-praktek dan perilaku-perilaku dari saat ke saat yang aktual yang beroperasi dalam mengajarkan sesuatu bahasa berdasarkan metode tertentu.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.psb-psma.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran. Diposkan pada: Jum, 03 Oktober 2008 - 13:12. Oleh: Akhmad Sudrajat.
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/06/hakikat-prosedur-pembelajaran.html. Diposkan pada Rabu, 24 Juni 2009. Oleh: Wawan Junaidi.

http://myfortuner.wordpress.com/2010/09/20/prinsip-pendekatan-metode-teknik-strategi-dan-model-pembelajaran/Diposkan pada: 20 September 2010.

http://www.scribd.com/doc/3294575/Pendekatan-terpadu-Imron-Nurdiansyah.

Pranowo. 1996. Analisis Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tarigan, Henri Guntur. 1989. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tim Penyusun. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Related Post:

Tidak ada komentar: